Tuliskan kelemahan televisi sebagai media penyalur iklan?
Jawaban 1 :
Pesan bersifat sementara,dan mungkin memerlukam beberapa eksposur agar iklan naik atas keruwetan
Waktu penayangan iklan terbatas membatasi informasi yang ingin disampaikan.Kebanyakan iklan hanya tiga puluh detik atau kering
Dijawab Oleh :
Ahmad Hidayat, S. Pd.
Jawaban 2 :
Biaya Yang Tinggi
Karena potensinya yang sangat tinggi, maka tak heran harga periklanan televisi kian meningkat. Apalagi pada stasiun yang jelas-jelas memiliki penonton potensial dan program menarik. Hal ini membuat periklanan televisi hanya ditempati para pebisnis dengan modal besar.
Terpecahnya Perhatian Penonton Akibat Banyaknya Pilihan Program Lain
Saat ini banyak stasiun televisi. Mereka bersaing dengan menyediakan acara unggulan sendiri. Karena itulah pemirsa punya banyak pilihan. Ketika satu stasiun acaranya sedang jeda iklan maka mereka beralih ke program di stasiun lain. Begitu seterusnya.
Pemirsa Suka Menghindari Iklan
Masih terkait dengan poin kedua, menurut suatu riset, sekitar sepertiga pemirsa potensial televisi hilang karena pemirsa melakukan zapping. Yaitu tindakan beralih ke stasiun lain ketika satu stasiun TV menayangkan iklan.
Iklan Yang Tidak Beraturan
Banyaknya iklan di televisi membuat pemirsa menjadi enggan melihat siaran televisi tertentu. Semakin banyaknya pengiklan membuat televisi juga menayangkan iklan sangat masif sehingga pesan iklan tak tersampaikan. Selain pemirsa menjadi jenuh, mereka juga dengan mudah beralih channel.
Dijawab Oleh :
Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.
Penjelasan :
Biaya Selangit: Kelemahan Utama yang Menguras Kantong
Mari kita jujur, kelemahan memasang iklan di televisi adalah biayanya yang luar biasa mahal. Ini bukan lagi rahasia umum. Biaya ini terbagi menjadi dua komponen besar yang sama-sama bisa membuat anggaran pemasaran jebol.
Pertama adalah biaya produksi. Membuat iklan TV berkualitas butuh proses panjang dan mahal. Mulai dari menyewa talenta (aktor/aktris), sutradara, tim produksi, biaya lokasi syuting, hingga proses pascaproduksi seperti editing dan scoring musik. Sebuah iklan berdurasi 30 detik bisa menelan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah hanya untuk produksinya saja.
Kedua, dan yang paling mencekik, adalah biaya penayangan (media placement). Harga untuk satu slot iklan di TV nasional, terutama pada jam-jam prime time (pukul 18.00 – 22.00), bisa mencapai angka yang fantastis per penayangan. Jika Anda ingin kampanye berjalan selama sebulan dengan frekuensi yang cukup, siapkan dana yang sangat besar. Bagi bisnis skala kecil dan menengah, angka ini sering kali di luar jangkauan.
Menembak di Kegelapan? Masalah Jangkauan dan Pengukuran
Dulu, daya tarik utama TV adalah jangkauannya yang masif. Namun, jangkauan yang luas tidak selalu berarti efektif. Di sinilah letak beberapa kelemahan fundamental iklan televisi di era modern.
Sulitnya Menargetkan Audiens Spesifik
Iklan TV bekerja dengan prinsip “menebar jaring”. Anda menayangkan iklan ke jutaan orang, berharap beberapa di antaranya adalah target pasar Anda. Ini sangat berbeda dengan iklan digital yang memungkinkan penargetan super spesifik berdasarkan demografi, minat, perilaku, bahkan riwayat pembelian.
Bayangkan Anda menjual produk skincare untuk remaja. Iklan Anda di TV mungkin akan ditonton oleh anak-anak, bapak-bapak, atau nenek-nenek yang sama sekali tidak relevan. Ini seperti berteriak di tengah keramaian, berharap orang yang tepat mendengar Anda. Efeknya? Banyak pemborosan anggaran karena iklan Anda menjangkau audiens yang tidak potensial.
Pengukuran Efektivitas yang Tidak Akurat
Bagaimana Anda tahu iklan TV Anda berhasil? Metrik tradisional seperti rating (misalnya dari Nielsen) sering menjadi acuan. Namun, sistem rating ini bekerja berdasarkan survei pada sejumlah kecil sampel rumah tangga, yang kemudian diekstrapolasi untuk mewakili seluruh populasi. Metode ini rentan terhadap ketidakakuratan dan tidak memberikan gambaran real-time.
Anda tidak bisa tahu pasti:
- Berapa banyak orang yang benar-benar memperhatikan iklan Anda?
- Berapa orang yang langsung mencari produk Anda secara online setelah melihat iklan?
- Iklan di program mana yang memberikan konversi penjualan paling tinggi?
Kelemahan memasang iklan di televisi adalah minimnya data terukur yang bisa langsung dianalisis untuk optimasi. Anda tidak bisa melakukan A/B testing seketika atau mengubah strategi kampanye dengan cepat berdasarkan data kinerja.
Perilaku “Zapping” dan “Second Screen”
Tantangan terbesar bagi iklan TV saat ini adalah perilaku penonton. Ketika jeda iklan tiba, apa yang dilakukan kebanyakan orang?
- Zapping: Pindah ke saluran lain untuk menghindari iklan.
- Second Screen: Mengalihkan perhatian ke ponsel untuk membuka media sosial, membalas pesan, atau sekadar scrolling.
Fenomena ini membuat efektivitas iklan menurun drastis. Meskipun TV menyala dan rating mencatat audiens sedang “menonton”, mata dan perhatian mereka sebenarnya ada di tempat lain. Iklan Anda tayang, tapi pesannya tidak sampai.
Kaku dan Terbatas: Kendala Fleksibilitas dan Kreativitas
Dibandingkan media digital yang dinamis, televisi adalah media yang sangat kaku. Sifat ini menjadi kelemahan signifikan bagi brand yang ingin bergerak cepat dan adaptif.
Proses Produksi yang Panjang dan Rumit
Dari ide awal hingga iklan siap tayang di TV bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Prosesnya melibatkan banyak pihak: agensi, rumah produksi, stasiun TV untuk sensor, dan lain-lain. Birokrasi ini membuat Anda tidak bisa merespons tren pasar atau meluncurkan promosi dadakan dengan cepat.
Jika ada kesalahan kecil atau ingin mengubah sedikit pesan dalam iklan, proses revisinya pun akan memakan waktu dan biaya lagi. Sifat yang tidak fleksibel ini sangat kontras dengan iklan digital yang bisa diubah atau dihentikan hanya dengan beberapa klik.
Durasi Terbatas dan Pesan Satu Arah
Iklan TV memaksa Anda untuk menyampaikan pesan dalam format yang sangat terbatas. Anda harus bisa memadatkan semua keunggulan produk dan call-to-action dalam 15, 30, atau 60 detik. Hal ini sering kali membuat pesan menjadi dangkal dan sulit untuk membangun koneksi emosional yang mendalam dengan audiens.
Keterbatasan Durasi
Dengan waktu yang singkat, sulit untuk membangun cerita atau memberikan edukasi produk yang komprehensif. Anda hanya bisa menampilkan “kulitnya” saja, berharap audiens penasaran untuk mencari tahu lebih lanjut.
Komunikasi Satu Arah
Televisi adalah media komunikasi satu arah. Anda “berbicara” kepada audiens, tetapi tidak ada ruang bagi mereka untuk merespons secara langsung. Tidak ada tombol like, kolom komentar, atau fitur share. Kurangnya interaksi ini membuat pembangunan komunitas dan engagement menjadi mustahil dilakukan melalui iklan TV itu sendiri.
Lalu, Apa Alternatifnya di Era Digital?
Melihat berbagai kelemahan tersebut, banyak brand kini mengalihkan fokus dan anggaran mereka ke media digital. Alternatifnya sangat beragam dan sering kali lebih efektif dari segi biaya dan hasil. Beberapa di antaranya adalah:
- Iklan Media Sosial (Facebook, Instagram, TikTok Ads): Menawarkan penargetan super presisi, data kinerja real-time, dan format iklan yang interaktif.
- Pemasaran Konten (Content Marketing) dan SEO: Membangun kepercayaan jangka panjang dengan menyediakan konten yang bermanfaat bagi audiens, sekaligus membuat brand mudah ditemukan di mesin pencari.
- Video Online (YouTube Ads): Menjangkau audiens yang relevan dengan biaya per tayang yang jauh lebih rendah, serta metrik yang jelas (seperti view-through rate).
- Pemasaran Influencer (Influencer Marketing): Bekerja sama dengan kreator konten yang memiliki audiens loyal dan tersegmentasi untuk mempromosikan produk secara lebih otentik.
Kesimpulan
Meski masih memiliki kekuatan untuk membangun brand awareness dalam skala masif, televisi bukan lagi satu-satunya pilihan utama, apalagi pilihan terbaik untuk semua jenis bisnis. Pada akhirnya, kelemahan memasang iklan di televisi adalah kombinasi dari biaya yang sangat tinggi, kesulitan menargetkan audiens secara spesifik, pengukuran yang ambigu, dan sifatnya yang kaku serta tidak interaktif.
Bagi para pemasar modern, kunci kesuksesan bukan lagi tentang seberapa keras Anda berteriak, melainkan seberapa cerdas Anda berbisik di telinga orang yang tepat. Dan untuk itu, media digital sering kali menjadi panggung yang jauh lebih efektif dan efisien.