Unen-unen kang ajeg panggonane mawa teges sing disemoni wonge lan ulah manungsa diarani?
a.Saloka
b.nembang
c. geguritan
d. Cangkriman
Jawaban 1 :
Sebenarnya jawabannya adalah Bebasan karena bebasan untuk manusia, jadi mungkin jawabannya A untuk lebih jelas baca ya↓
Penjelasan:
Paribasan : unen² sing wis gumathok racikane (ora kena diowahi), kan ngemu teges tetandhingan, pepindhan, saemper pasemon.
Paribasan ana sing sinebut bebasan lan ana sing sinebut saloka.
Bebasan: yaiku unen² sing ajeg penganggonane ngemu Surasa pepeindhan, sing dipindhakake sesipatan utawa kahanan kang sambung rapet Karo ulah kridhaning manungsa. Tuladahne: wong kang ngumukake kekuwatane, kaluhurane, sarta kapinterane. Bebasane “adigang,adigung,adiguna”.
Saloka: yaiku unen² sing ajeg pengangonane ngemu teges entar lan pepindhan, sing dipindhakake magepokan Karo sing disemoni utawa disanepani. Tuladhane: Wong tuwa sing njaluk Wulang marang anak. Disalokani “_Kebonesugudel”._Kebo dipindhakake wng tuwa, gudel dipindhakake tumprap anak.

Dijawab Oleh :
Yuyun Yulianti, S. Pd.
Jawaban 2 :
jawaban nya B semoga membantu
Dijawab Oleh :
Dr. Wawan Suherman, S. Pd. M.Pd.
Penjelasan :
Mengungkap Jawaban: Saloka adalah Istilah yang Tepat
Ketika dihadapkan pada pertanyaan, “Unen-unen kang ajeg panggonane mawa teges sing disemoni wonge lan ulah manungsa diarani……….. a.Saloka b.nembang c. geguritan d. Cangkriman”, jawaban yang paling tepat adalah a. Saloka.
Saloka secara definitif adalah jenis peribahasa dalam bahasa Jawa yang memiliki susunan kata tetap (ajeg panggonane), mengandung makna kiasan (teges entar), dan yang paling penting, subjek yang disindir atau digambarkan adalah orang beserta tingkah lakunya (sing disemoni wonge lan ulah manungsa). Inilah yang membedakannya dari jenis peribahasa lainnya.
Membedah Konsep Saloka Lebih Dalam
Untuk memahami mengapa Saloka menjadi jawaban yang benar, penting bagi kita untuk mengenali karakteristik dan perbedaannya dengan peribahasa sejenis. Pemahaman ini akan memperjelas mengapa pertanyaan mengenai paribasan sing disemoni ulah kridhaning manungsa diarani merujuk secara spesifik kepada Saloka.
Ciri-ciri Utama Saloka
Saloka memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari ungkapan lain:
- Susunan Kata Tetap: Frasa atau kalimat dalam Saloka tidak dapat diubah-ubah susunannya. Bentuknya sudah baku dari sananya.
- Mengandung Makna Kiasan: Arti yang terkandung bukanlah arti harfiah, melainkan makna yang lebih dalam dan bersifat konotatif.
- Menggunakan Perumpamaan: Umumnya, Saloka menggunakan perumpamaan berupa hewan atau benda untuk menggambarkan subjeknya.
- Subjeknya adalah Manusia: Ini adalah poin kunci. Fokus utama sindiran atau penggambaran dalam Saloka selalu tertuju pada orang, karakter, atau sifat manusia.
Perbedaan Saloka dengan Paribasan dan Bebasan
Dalam sastra Jawa, selain Saloka, ada juga Paribasan dan Bebasan. Ketiganya sering kali dianggap sama, padahal memiliki perbedaan mendasar.
- Paribasan: Merupakan peribahasa yang berisi nasihat umum atau kebenaran universal. Paribasan tidak menyindir subjek tertentu dan tidak selalu menggunakan perumpamaan. Contoh: Becik ketitik, ala ketara (Yang baik akan terlihat, yang buruk akan tampak).
- Bebasan: Mirip dengan Saloka karena menggunakan makna kiasan dan perumpamaan. Namun, yang disindir dalam Bebasan adalah keadaan atau situasi, bukan orangnya. Contoh: Nabok nyilih tangan (Memukul meminjam tangan), yang artinya berbuat sesuatu melalui orang lain. Fokusnya pada tindakannya, bukan pada karakter pelakunya.
- Saloka: Seperti yang telah dijelaskan, fokus utamanya adalah manusia dan perilakunya. Perumpamaan hewan atau benda langsung ditujukan untuk menggambarkan sifat seseorang.
Mengapa Jenis Lain Bukan Jawaban yang Tepat?
Pilihan lain dalam pertanyaan (nembang, geguritan, cangkriman) jelas tidak sesuai dengan definisi yang diberikan.
- Nembang: Adalah seni menyanyikan tembang atau syair tradisional Jawa (seperti Macapat). Ini adalah bentuk seni vokal, bukan peribahasa.
- Geguritan: Merupakan puisi modern dalam bahasa Jawa yang tidak terikat aturan baku seperti tembang. Ini adalah karya sastra berupa puisi, bukan ungkapan tetap.
- Cangkriman: Adalah teka-teki atau tebak-tebakan yang tujuannya untuk mengasah otak.
Paribasan Sing Disemoni Ulah Kridhaning Manungsa Diarani Saloka: Contoh dan Aplikasinya
Untuk memperjelas konsep ini, mari kita lihat beberapa contoh konkret dari Saloka. Memahami contoh-contoh ini akan memberikan gambaran nyata tentang bagaimana sebuah paribasan sing disemoni ulah kridhaning manungsa diarani Saloka bekerja dalam komunikasi sehari-hari.
Contoh Saloka Populer dan Maknanya
Berikut adalah beberapa Saloka yang sering digunakan beserta penjelasan makna yang terkandung di dalamnya.
Kebo Nusu Gudel
- Arti Harfiah: Kerbau menyusu pada anaknya (gudel).
- Makna Kiasan: Ungkapan ini ditujukan untuk orang tua yang meminta ajaran atau belajar dari orang yang jauh lebih muda. “Kebo” (kerbau) melambangkan orang tua, dan “gudel” (anak kerbau) melambangkan anak muda. Perilaku (ulah kridhaning manungsa) yang disindir adalah tindakan yang tidak lazim di mana yang lebih tua bergantung ilmu pada yang muda.
Bathok Bolu Isi Madu
- Arti Harfiah: Tempurung kelapa berlubang yang berisi madu.
- Makna Kiasan: Saloka ini menggambarkan seseorang yang berasal dari kalangan biasa atau rakyat jelata (dilambangkan oleh bathok bolu) tetapi memiliki ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, atau budi pekerti yang luhur (dilambangkan oleh madu). Ini adalah pujian yang disamarkan dalam perumpamaan.
Gajah Ngidak Rapah
- Arti Harfiah: Gajah menginjak-injak dahan kering (yang ia jatuhkan sendiri).
- Makna Kiasan: Ditujukan kepada seseorang yang melanggar aturan, nasihat, atau sumpahnya sendiri. “Gajah” melambangkan orang yang memiliki kuasa atau yang membuat aturan, sementara “ngidak rapah” menggambarkan perilakunya yang tidak konsisten dan merusak apa yang telah ia bangun atau katakan.
Relevansi Saloka di Era Modern
Meskipun berasal dari tradisi lisan kuno, Saloka masih sangat relevan hingga saat ini. Penggunaan Saloka berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kritik atau nasihat tanpa menyinggung secara langsung. Ini adalah bentuk kecerdasan sosial yang mengajarkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih bijaksana dan penuh kearifan.
Saloka juga menjadi bukti bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berbicara, tetapi juga wadah untuk menyimpan nilai-nilai budaya dan filosofi hidup suatu masyarakat. Mempelajarinya berarti kita turut serta melestarikan warisan luhur nenek moyang.
Kesimpulan
Secara ringkas dan jelas, unen-unen kang ajeg panggonane mawa teges sing disemoni wonge lan ulah manungsa diarani adalah Saloka. Karakteristik utamanya yang berfokus pada perumpamaan untuk menggambarkan sifat dan perilaku manusia menjadikannya unik dibandingkan Paribasan dan Bebasan.
Jadi, ketika Anda mencari jawaban atas pertanyaan paribasan sing disemoni ulah kridhaning manungsa diarani apa, jawaban yang paling akurat dan definitif adalah Saloka. Memahami Saloka tidak hanya menambah wawasan kebahasaan, tetapi juga membuka jendela untuk melihat kearifan budaya Jawa dalam memandang dan menasihati perilaku manusia melalui untaian kata yang indah dan penuh makna.