Perhatikan potongan ayat di bawah ini! .. ألست بربكم قالوا بلى شهدنا Potongan ayat di atas merupakan amanah yang didapat ketika kita masih dalam kandungan dan harus kita jaga sampai sekarang, yaitu amanah tauhid atau amanah
a. fitrah
b.bekerja
c. belajar
d. berikhtiar
Jawaban 1 :
d. berikhtiar
Penjelasan:
wa iż akhaża rabbuka mim banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alā anfusihim, a lastu birabbikum, qālụ balā syahidnā, an taqụlụ yaumal-qiyāmati innā kunnā ‘an hāżā gāfilīn
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
maaf kalo salah ya
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dijawab Oleh :
Dr. Wawan Suherman, S. Pd. M.Pd.
Jawaban 2 :
d. berikhtiar
Dijawab Oleh :
Yuyun Yulianti, S. Pd.
Penjelasan :
Membedah Makna di Balik “Alastu Birobbikum Qolu Bala Syahidna”
Potongan ayat alastu birobbikum qolu bala syahidna merupakan bagian dari Surah Al-A’raf ayat 172. Ayat ini mengisahkan momen ketika Allah SWT mengumpulkan seluruh ruh keturunan Adam, dari yang pertama hingga yang terakhir, di sebuah tempat yang disebut Alam Arwah atau Alam Azali.
Secara harfiah, potongan ayat ini dapat diterjemahkan sebagai berikut:
- “ألست بربكم” (Alastu birobbikum?): “Bukankah Aku ini Rabb-mu (Tuhanmu)?”
- “قالوا بلى” (Qolu bala): “Mereka (para ruh) menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami)’.”
- “شهدنا” (Syahidna): “Kami bersaksi.”
Dialog ini bukanlah sekadar tanya jawab biasa. Pertanyaan Allah adalah sebuah penegasan untuk meminta pengakuan mutlak. Jawaban serentak dari seluruh ruh, “Bala, syahidna”, adalah sebuah ikrar, sumpah, dan kesaksian yang mengikat. Inilah perjanjian tauhid pertama yang dilakukan oleh setiap manusia.
Perjanjian Azali: Ikrar Tauhid Seluruh Umat Manusia
Peristiwa yang digambarkan dalam dialog alastu birobbikum qolu bala syahidna dikenal dalam terminologi Islam sebagai Perjanjian Azali atau mitsaq. Ini adalah sebuah perjanjian suci yang mendahului eksistensi fisik manusia di dunia.
Dialog Agung di Alam Arwah
Bayangkan sebuah momen di mana seluruh jiwa manusia, dari zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir di akhir zaman, dikumpulkan di hadapan Penciptanya. Dalam keadaan murni dan tanpa selubung materi, Allah SWT bertanya langsung untuk meneguhkan status-Nya sebagai satu-satunya Rabb yang berhak disembah.
Pertanyaan “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” adalah untuk memastikan bahwa setiap jiwa secara sadar mengakui ketuhanan Allah. Ini menjadi bukti fundamental bahwa pengenalan terhadap Tuhan bukanlah sesuatu yang asing, melainkan sesuatu yang telah tertanam dalam diri setiap insan sejak awal penciptaannya.
“Qolu Bala Syahidna”: Jawaban Tegas Penuh Kesadaran
Jawaban “Bala, syahidna” memiliki kekuatan yang luar biasa. Kata “Bala” (Betul/Benar) adalah bentuk afirmasi paling kuat dalam bahasa Arab untuk menjawab pertanyaan negatif. Ini menunjukkan sebuah pengakuan yang tulus dan tanpa keraguan sedikit pun.
Diikuti dengan kata “Syahidna” (Kami bersaksi), ikrar ini menjadi lebih kokoh. Kesaksian ini menyiratkan bahwa setiap ruh tidak hanya mengakui, tetapi juga siap menjadi saksi atas keesaan Allah, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi yang lain. Ini adalah komitmen untuk memegang teguh prinsip tauhid.
Implikasi Perjanjian Terhadap Kehidupan Dunia
Perjanjian Azali ini memiliki implikasi besar bagi kehidupan kita. Allah menjadikan kesaksian ini sebagai hujjah atau argumen kelak di hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang bisa berdalih bahwa ia tidak pernah mengenal Tuhannya, karena janji alastu birobbikum qolu bala syahidna telah diikrarkan oleh setiap jiwa. Kehidupan di dunia ini pada hakikatnya adalah arena pembuktian atas janji yang pernah diucapkan tersebut.
Amanah Tauhid dan Kaitannya dengan Fitrah
Dari pertanyaan di awal, “Potongan ayat di atas merupakan amanah yang didapat ketika kita masih dalam kandungan dan harus kita jaga sampai sekarang, yaitu amanah tauhid atau amanah ….”, jawaban yang paling tepat adalah a. fitrah. Mari kita telaah mengapa demikian.
Apa Itu Amanah Fitrah?
Fitrah adalah kondisi asli atau kodrat suci yang Allah tanamkan pada setiap manusia saat lahir. Fitrah ini adalah kecenderungan alami untuk mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa dan berbuat kebaikan. Perjanjian alastu birobbikum qolu bala syahidna adalah momen di mana benih fitrah tauhid ini ditanamkan ke dalam setiap ruh.
Amanah fitrah adalah tugas kita untuk menjaga kesucian dan kemurnian kodrat ini. Kita diamanahkan untuk tidak membiarkan fitrah tauhid ini terkontaminasi oleh berbagai pengaruh eksternal yang dapat menyelewengkannya, seperti syirik, kekufuran, atau keraguan.
Menjaga Kemurnian Fitrah di Dunia Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan ideologi modern, menjaga amanah fitrah menjadi tantangan tersendiri. Godaan materialisme, agnostisisme, dan berbagai pemikiran lain dapat mengikis keyakinan yang telah terpatri sejak Alam Arwah.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim). Hadis ini menegaskan betapa vitalnya peran keluarga dan lingkungan dalam merawat atau merusak fitrah. Pendidikan tauhid sejak dini adalah cara terbaik untuk menyirami benih yang berasal dari ikrar alastu birobbikum qolu bala syahidna.
Ibadah Sebagai Cara Mengingat Janji
Setiap ibadah yang kita lakukan, seperti shalat, zikir, puasa, dan membaca Al-Qur’an, pada hakikatnya adalah cara untuk “mengingat” kembali janji primordial tersebut. Ibadah membersihkan hati dari noda-noda duniawi, sehingga suara fitrah yang mengakui keesaan Allah dapat terdengar kembali dengan jernih.
Mengapa Kita Tidak Ingat Perjanjian Ini Secara Sadar?
Sebuah pertanyaan yang wajar muncul: “Jika saya pernah berjanji, mengapa saya tidak dapat mengingatnya sama sekali?” Para ulama menjelaskan bahwa ingatan akan peristiwa alastu birobbikum qolu bala syahidna tidak tersimpan dalam memori kognitif (pikiran sadar) kita, melainkan tersimpan dalam memori ruhani (lubuk hati atau fitrah).
Meskipun kita tidak mengingat detail kejadiannya, “jejak” dari perjanjian itu tetap ada. Jejak itulah yang menjelma menjadi:
- Rasa penasaran tentang asal-usul dan tujuan hidup.
- Ketenangan jiwa saat mengingat atau menyebut nama Tuhan.
- Kecenderungan alami untuk percaya pada kekuatan yang lebih tinggi.
Para nabi dan rasul diutus, serta kitab-kitab suci diturunkan, bukan untuk mengenalkan konsep Tuhan yang sama sekali baru, melainkan untuk mengingatkan manusia akan perjanjian yang telah mereka lupakan. Al-Qur’an berfungsi sebagai dzikr (pengingat) akan janji setia ini.
Kesimpulan
Dialog agung alastu birobbikum qolu bala syahidna adalah fondasi dari seluruh bangunan keimanan seorang manusia. Ia adalah perjanjian pertama, kesaksian paling murni, dan amanah terbesar yang diletakkan di pundak kita. Amanah ini bukanlah beban, melainkan sebuah kehormatan dan kompas moral yang disebut fitrah.
Menjaga amanah tauhid atau amanah fitrah berarti menjalani hidup selaras dengan ikrar yang pernah kita ucapkan di hadapan Tuhan. Dengan senantiasa membersihkan hati, memperdalam ilmu agama, dan membuktikan ikrar tersebut melalui amal saleh, kita sedang berjuang untuk tetap setia pada janji suci itu. Pada akhirnya, seluruh perjalanan hidup ini adalah tentang membuktikan kebenaran dari dua kata sakti yang pernah diucapkan serentak oleh seluruh jiwa: “Bala, Syahidna” (Betul, kami bersaksi).