musyawarah berdasarkan kebersamaan,kekeluargaan dan

musyawarah berdasarkan kebersamaan,kekeluargaan dan …
A.Keberagaman
B.manfaat
C. Gotong royong
D.Kerakyatan

Jawaban 1 : 

D. KERAKYATAN JAWABANNYA

Dijawab Oleh : 

Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.

Jawaban 2 : 

C. Gotong royong,maaf klau salah

Dijawab Oleh : 

Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.

Penjelasan :

Memahami Esensi Musyawarah dalam Budaya Indonesia

Musyawarah berasal dari bahasa Arab, syawara, yang berarti berunding atau meminta petunjuk. Dalam konteks Indonesia, maknanya berkembang menjadi proses pembahasan bersama untuk mencapai keputusan berdasarkan kesepakatan atau mufakat. Ini adalah antitesis dari pengambilan keputusan yang bersifat otoriter atau berdasarkan suara mayoritas semata.

Prinsip ini secara tegas diamanatkan dalam Sila Keempat Pancasila: “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.” Kata “hikmat kebijaksanaan” menggarisbawahi bahwa tujuan musyawarah bukanlah kemenangan satu kelompok, melainkan pencapaian keputusan yang paling bijaksana dan adil bagi kepentingan bersama.

Tiga Pilar Utama: Kebersamaan, Kekeluargaan, dan Gotong Royong

Untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu membedah tiga pilar yang menopangnya. Sebuah musyawarah berdasarkan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong tidak akan berjalan efektif jika salah satu unsurnya hilang. Ketiganya saling mengikat dan memperkuat.

Asas Kebersamaan: Satu Tujuan, Satu Keputusan

Asas kebersamaan menekankan bahwa setiap individu yang terlibat dalam musyawarah adalah bagian dari satu kesatuan yang utuh. Kepentingan pribadi atau golongan dikesampingkan demi mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu kebaikan bersama.

Baca Juga:  Dinasti politik bertentangan dengan pancasila terutama sila ke...

Dalam bingkai kebersamaan, setiap pendapat dianggap berharga, dan setiap suara didengarkan. Tidak ada perasaan “saya” melawan “kamu”, yang ada hanyalah “kita” yang sedang mencari jalan keluar terbaik. Semangat inilah yang membuat hasil musyawarah terasa dimiliki oleh semua pihak.

Semangat Kekeluargaan: Menjaga Harmoni dan Saling Menghargai

Semangat kekeluargaan membawa nuansa hangat dan penuh tenggang rasa ke dalam proses musyawarah. Anggota musyawarah memandang satu sama lain layaknya anggota keluarga. Ada rasa saling menghormati, terutama kepada yang lebih tua atau yang dianggap lebih bijaksana, tanpa menghilangkan hak untuk berpendapat.

Dengan asas kekeluargaan, perbedaan pandangan tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan perspektif. Kritik disampaikan dengan cara yang santun dan membangun, serta bertujuan untuk memperbaiki gagasan, bukan untuk menjatuhkan pribadi. Ini menjaga agar musyawarah tidak berubah menjadi ajang permusuhan.

Nilai Gotong Royong: Bekerja Bersama untuk Kebaikan Bersama

Gotong royong adalah pilar pamungkas yang menyempurnakan proses ini. Jika kebersamaan adalah niatnya dan kekeluargaan adalah suasananya, maka gotong royong adalah aksinya. Nilai ini menegaskan bahwa musyawarah tidak berhenti saat keputusan (mufakat) telah tercapai.

Gotong royong mewujud dalam dua hal. Pertama, partisipasi aktif semua pihak dalam proses musyawarah itu sendiri. Kedua, dan yang terpenting, adalah tanggung jawab bersama untuk melaksanakan hasil keputusan tersebut. Inilah yang membuat musyawarah berdasarkan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong menjadi sangat kuat dan efektif.

Mengapa Pendekatan Ini Krusial bagi Bangsa Indonesia?

Di tengah tantangan zaman dan keberagaman yang luar biasa, pendekatan musyawarah dengan tiga pilar ini menjadi semakin relevan. Ada beberapa alasan mengapa prinsip ini sangat krusial bagi keutuhan dan kemajuan bangsa.

Merawat Keberagaman dalam Persatuan

Indonesia adalah rumah bagi ratusan suku, bahasa, dan adat istiadat. Pengambilan keputusan yang hanya mengandalkan suara mayoritas berisiko meminggirkan kelompok minoritas. Musyawarah yang dilandasi nilai-nilai luhur ini menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan.

Baca Juga:  Game TTS Pintar 2019. Pertanyaan : Taman laut di Sulawesi Utara. Jawabannya 7 huruf. Kira kira apa yah ?

Melalui dialog yang penuh kekeluargaan, setiap kelompok dapat menyuarakan aspirasinya tanpa rasa takut. Hasilnya adalah sebuah keputusan yang mengakomodasi sebanyak mungkin kepentingan, selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Mencegah Konflik dan Memperkuat Solidaritas Sosial

Konflik sering kali berawal dari rasa ketidakadilan atau perasaan tidak didengarkan. Pendekatan musyawarah mufakat secara inheren bersifat preventif terhadap konflik. Ketika semua pihak merasa dilibatkan dan dihargai, potensi gesekan sosial dapat diminimalkan.

Proses ini secara alami memperkuat ikatan sosial (solidaritas) di antara anggota masyarakat. Mereka belajar untuk saling memahami, bertoleransi, dan bekerja sama, yang pada akhirnya membangun fondasi masyarakat yang lebih kokoh dan harmonis.

Contoh dalam Lingkungan Masyarakat

Bayangkan sebuah Rukun Tetangga (RT) yang hendak membangun gapura untuk menyambut hari kemerdekaan. Melalui musyawarah berdasarkan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong, warga berkumpul. Ada yang usul desain A, ada yang usul desain B. Semua didengarkan, lalu dicari jalan tengah yang memadukan ide-ide terbaik. Setelah mufakat tercapai, mereka bersama-sama (gotong royong) mengumpulkan dana dan tenaga untuk membangunnya.

Contoh dalam Organisasi atau Tempat Kerja

Di sebuah perusahaan, tim sedang menghadapi masalah penurunan penjualan. Alih-alih manajer langsung memberikan instruksi, ia mengadakan musyawarah. Tim pemasaran, penjualan, dan produk duduk bersama. Dengan semangat kekeluargaan, mereka bertukar data dan ide tanpa saling menyalahkan. Hasilnya adalah strategi baru yang disepakati dan siap dijalankan bersama-sama, karena semua merasa memiliki solusi tersebut.

Tantangan Implementasi di Era Modern

Meskipun ideal, penerapan musyawarah yang sejati menghadapi tantangan di era modern. Menguatnya budaya individualisme, pragmatisme yang menuntut keputusan serba cepat, serta polarisasi akibat media sosial sering kali mengikis kesabaran untuk berdialog.

Baca Juga:  Sebutkan elemen elemen dari bernalar kritis!

Tantangan ini tidak seharusnya membuat kita meninggalkan nilai luhur tersebut. Justru, ini menjadi pengingat bahwa musyawarah berdasarkan kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong perlu terus diajarkan, dipraktikkan, dan dilestarikan, mulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga hingga tatanan negara.

Kesimpulan

Musyawarah yang berlandaskan pada kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong adalah warisan budaya tak ternilai yang menjadi DNA bangsa Indonesia. Ia bukan sekadar prosedur, melainkan sebuah filosofi hidup bersama yang mengedepankan harmoni, keadilan, dan tanggung jawab kolektif. Dengan memegang teguh tiga pilar ini, musyawarah tidak hanya menjadi alat untuk mengambil keputusan, tetapi juga menjadi sarana untuk merawat persatuan, memperkuat solidaritas, dan memastikan bahwa setiap langkah pembangunan bangsa didasari oleh kebijaksanaan bersama.

Tinggalkan komentar