Motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk
a. ziarah ke makam rasulullah
b. salat di masjid quba
c. ziarah ke medan perang rasulullah
d. melakukan salat arba’in di masjid nabawi
Jawaban 1 :
Motivasi jamaah haji untuk berkunjung ke Madinah adalah untuk melakukan ZIARAH KE MAKAM RASULULLAH (A). Motivasi ini adalah yang paling utama, adapun motivasi lainnya seperti berkunjung ke masjid Quba juga melakukan shalat Arba’in di Masjid Nabawi adalah motivasi lainnya.
» Pembahasan
Dalam serangkaian ibadah haji, tidak terdapat pelaksanaan ibadah yang mengambil tempat di Madinah. Oleh sebab itu, bukan kewajiban jamaah haji untuk mengunjungi kota yang dahulu bernama Yastrib tersebut. Tanpa berkunjung ke Madinah sekalipun, ibadah haji yang mereka laksanakan adalah sah sesuai syariat.
Meski begitu, Madinah adalah salah satu kota suci umat islam. Oleh sebab itu ada magnet tersendiri untuk berkunjung ke sana terlebih karena makam Nabi Muhammad SAW ada di kota tersebut.
Dijawab Oleh :
Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.
Jawaban 2 :
Motivasi jamaah haji untuk berkunjung ke Madinah adalah untuk melakukan ZIARAH KE MAKAM RASULULLAH (A). Motivasi ini adalah yang paling utama, adapun motivasi lainnya seperti berkunjung ke masjid Quba juga melakukan shalat Arba’in di Masjid Nabawi adalah motivasi lainnya.
Dijawab Oleh :
Ahmad Hidayat, S. Pd.
Penjelasan :
Memahami Tujuan Utama di Balik Kunjungan ke Madinah
Kunjungan ke Madinah bukanlah bagian dari rukun atau wajib haji, melainkan sebuah amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun demikian, hampir seluruh jamaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, selalu menyempatkan diri untuk singgah di kota suci kedua ini. Hal ini menunjukkan betapa besarnya kerinduan dan kecintaan umat kepada Nabi Muhammad SAW.
Motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk menyerap energi spiritual dari kota yang menjadi pusat dakwah dan pemerintahan Islam pada masa awal. Semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari salat di Masjid Nabawi hingga ziarah ke tempat bersejarah, semuanya bermuara pada satu hal: menumbuhkan dan membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW serta meneladani sunnahnya.
Mengurai Ragam Motivasi Spiritual di Kota Nabi
Setiap aktivitas di Madinah memiliki keutamaan dan daya tarik spiritualnya sendiri. Jamaah datang dengan berbagai niat yang saling melengkapi, membentuk sebuah mozaik ibadah yang indah selama berada di kota Nabi.
Ziarah ke Makam Rasulullah SAW: Puncak Kerinduan Umat
Inilah inti dari segala kerinduan. Motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk bisa berdiri di hadapan makam Rasulullah SAW, mengucapkan salam secara langsung kepada beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Momen ini sering kali menjadi puncak emosional bagi jamaah, di mana air mata kerinduan tak terbendung.
Berada di area Raudhah, yaitu taman surga yang terletak di antara mimbar dan makam Nabi, menjadi dambaan setiap pengunjung. Berdoa di tempat mustajab ini adalah pengalaman yang luar biasa, seakan-akan doa tersebut melesat langsung ke langit. Oleh karena itu, ziarah ke makam Nabi adalah magnet spiritual terkuat yang menarik jutaan umat Islam ke Madinah setiap tahunnya.
Salat di Masjid Quba: Meraih Pahala Setara Umrah
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Keutamaannya sangat besar, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah, “Barangsiapa yang bersuci di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba, lalu ia mendirikan salat di sana, maka pahalanya seperti pahala umrah.”
Hadis ini menjadi pendorong kuat bagi para jamaah untuk menyempatkan diri berkunjung dan salat di Masjid Quba. Motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk meraih keutamaan besar ini, sebuah “bonus” pahala yang sangat berharga dalam perjalanan ibadah mereka.
Mengunjungi Situs Bersejarah: Jejak Perjuangan Islam
Madinah adalah museum terbuka dari sejarah perjuangan Islam. Ziarah ke tempat-tempat seperti Jabal Uhud (Gunung Uhud) menjadi agenda penting. Di sinilah terjadi perang dahsyat yang memberikan banyak pelajaran tentang ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan.
Mengunjungi makam para syuhada Uhud, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, membangkitkan kesadaran akan beratnya perjuangan menegakkan Islam. Ini bukan sekadar wisata religi, melainkan sebuah kontemplasi mendalam untuk meneladani semangat para pahlawan Islam terdahulu.
Salat Arba’in di Masjid Nabawi: Tradisi dan Keutamaannya
Di antara berbagai amalan, Salat Arba’in menjadi sebuah fenomena tersendiri, khususnya bagi jamaah dari Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Amalan ini menjadi salah satu motivasi yang sangat kuat bagi banyak jamaah.
Apa Itu Salat Arba’in?
Salat Arba’in adalah istilah untuk merujuk pada pelaksanaan salat fardu sebanyak 40 kali secara berturut-turut di Masjid Nabawi tanpa ketinggalan takbiratul ihram (takbir pertama bersama imam). Biasanya, ini membutuhkan waktu sekitar delapan hari tinggal di Madinah (5 salat fardu x 8 hari = 40 salat).
Motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk disiplin dalam beribadah, dan Salat Arba’in menjadi kerangka yang membantu mereka memaksimalkan waktu di Masjid Nabawi. Ini menjadi semacam target pribadi untuk menjaga kekhusyukan dan konsistensi ibadah.
Dasar dan Pandangan Ulama
Penting untuk diketahui bahwa landasan hadis mengenai keutamaan spesifik Salat Arba’in (bebas dari api neraka dan sifat munafik) memiliki status dha’if (lemah) menurut sebagian besar ahli hadis. Namun, hal ini tidak mengurangi semangat jamaah untuk melaksanakannya. Mengapa demikian?
Keutamaan Umum Salat di Masjid Nabawi
Landasan utama yang sahih dan tak terbantahkan adalah keutamaan salat di Masjid Nabawi secara umum. Rasulullah SAW bersabda, “Salat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik daripada seribu kali salat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pahala 1000 kali lipat ini adalah motivasi yang sesungguhnya.
Arba’in Sebagai Motivasi Positif
Para ulama memandang Salat Arba’in sebagai ijtihad atau sebuah cara yang baik untuk memotivasi diri. Ia berfungsi sebagai sarana untuk meraih keutamaan umum salat di Masjid Nabawi secara maksimal. Dengan menargetkan Arba’in, jamaah terdorong untuk selalu salat tepat waktu dan berjamaah, yang pada dasarnya adalah perbuatan yang sangat mulia.
Jawaban Atas Pertanyaan: Motivasi yang Paling Mendasar
Setelah menelaah semua pilihan—ziarah makam Rasul, salat di Masjid Quba, mengunjungi medan perang, dan melakukan salat Arba’in—mana yang menjadi jawaban paling tepat?
Semua pilihan tersebut adalah amalan mulia dan bagian dari agenda ibadah di Madinah. Namun, jika kita mencari akar atau motivasi yang paling fundamental, maka jawabannya adalah (a) ziarah ke makam Rasulullah SAW.
Alasannya, kecintaan dan kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW adalah sumber dari segala motivasi lainnya. Karena cinta kepada beliaulah, kita ingin salat di masjidnya (Masjid Nabawi), mengunjungi masjid pertama yang ia bangun (Masjid Quba), merenungi jejak perjuangannya (Jabal Uhud), dan berlama-lama di dekatnya untuk beribadah (yang sering diwujudkan dalam bentuk Salat Arba’in). Semua aktivitas lain adalah cabang dari pohon cinta kepada Sang Nabi.
Kesimpulan
Pada hakikatnya, motivasi jamaah haji berkunjung ke Madinah adalah untuk sebuah pengalaman spiritual yang utuh dan menyeluruh, yang berpusat pada sosok Nabi Muhammad SAW. Setiap ibadah yang dilakukan, mulai dari mengucap salam di depan makam beliau hingga menelusuri jejak sejarah perjuangannya, adalah bentuk ekspresi cinta dan upaya meneladani suri tauladan terbaik.
Meskipun Salat Arba’in menjadi target populer dan ziarah ke tempat lain memiliki keutamaannya sendiri, inti dari semua itu adalah kerinduan untuk berada sedekat mungkin dengan Rasulullah SAW. Kunjungan ke Madinah adalah perjalanan hati untuk menyapa sang kekasih, menimba ketenangan, dan pulang dengan semangat baru untuk meniti kehidupan sesuai sunnahnya.