Jenis batik jawa motif garis-garis disebut motif
Jawaban 1 :
jenis batik jawa motif garis-garis disebut motif Lurik.
-Umaku ikeba benridesu
Dijawab Oleh :
Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.
Jawaban 2 :
jenis batik yang sangat lampau itu
Dijawab Oleh :
Ahmad Hidayat, S. Pd.
Penjelasan :
Menjawab Pertanyaan: Dalam Batik Jawa Motif Garis Garis Disebut Motif Apa?
Secara spesifik, dalam batik Jawa motif garis garis disebut motif Lereng atau Garis Miring. Istilah “Lereng” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti lereng atau lerengan gunung, yang menggambarkan bentuk miring atau diagonal. Inilah ciri khas utama dari kelompok motif ini, yaitu susunan pola yang berjalan secara diagonal dari satu sudut ke sudut lainnya.
Motif Lereng adalah salah satu dari tiga pola dasar utama dalam batik tradisional, bersama dengan motif Ceplok (geometris berulang) dan Semen (terinspirasi dari alam). Keunikan Lereng terletak pada garis diagonalnya yang tegas, memberikan kesan dinamis, tegas, dan kokoh pada kain batik yang menggunakannya.
Mengenal Lebih Jauh Motif Lereng: Filosofi dan Sejarahnya
Motif Lereng bukan sekadar susunan garis miring. Di baliknya tersimpan filosofi yang mendalam dan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kehidupan keraton di Jawa, khususnya Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Motif ini diyakini sebagai salah satu pola batik tertua yang pernah ada.
Keberadaannya melambangkan kesuburan, tekad, dan perjuangan hidup yang tidak pernah putus. Garis-garis yang terus bersambung secara diagonal dimaknai sebagai aliran kehidupan yang dinamis dan harapan yang tidak pernah berhenti.
Simbolisme di Balik Garis-Garis Miring
Garis diagonal pada motif Lereng sarat dengan makna simbolis yang kuat. Pola ini melambangkan:
- Keteguhan dan Kesinambungan: Garis yang tidak terputus adalah simbol dari perjuangan hidup yang terus-menerus, kegigihan dalam menghadapi tantangan, dan semangat untuk terus maju.
- Kesuburan dan Kemakmuran: Aliran garis yang dinamis juga diartikan sebagai harapan akan datangnya kemakmuran dan kesuburan, layaknya aliran air yang menghidupi bumi.
- Kekuatan dan Kekuasaan: Karena sejarahnya yang lekat dengan lingkungan keraton, motif Lereng, terutama varian tertentu, sering dianggap sebagai simbol kekuatan, kewibawaan, dan status sosial yang tinggi.
Aturan Penggunaan Motif Lereng di Masa Lalu
Pada masa lalu, tidak semua orang boleh mengenakan motif Lereng. Beberapa varian motif ini, seperti Parang Rusak, termasuk dalam kategori awisan dalem, yaitu motif batik yang penggunaannya dilarang bagi masyarakat umum dan hanya boleh dikenakan oleh raja, keluarga inti, dan pejabat tinggi keraton. Aturan ini menunjukkan betapa sakral dan dihormatinya motif tersebut.
Perkembangan Motif Lereng di Era Modern
Seiring berjalannya waktu, aturan ketat mengenai penggunaan motif Lereng mulai melunak. Kini, berbagai jenis motif Lereng dapat dinikmati dan dikenakan oleh siapa saja. Para desainer modern pun kerap menginterpretasikan ulang pola ini ke dalam busana kontemporer, menjadikannya relevan dan tetap dicintai hingga generasi sekarang.
Ragam Motif Lereng Paling Populer di Jawa
Kelompok motif Lereng memiliki banyak sekali varian. Setiap varian memiliki nama, ciri khas, dan makna filosofisnya sendiri. Memahami ragamnya akan memperkaya pengetahuan kita bahwa dalam batik Jawa motif garis garis disebut motif yang sangat beragam.
Motif Parang: Sang Raja dari Segala Lereng
Motif Parang adalah varian Lereng yang paling terkenal dan ikonik. Polanya menyerupai huruf “S” yang saling jalin-menjalin tanpa putus dengan kemiringan 45 derajat. Kata “parang” berasal dari kata “pereng” yang juga berarti lereng.
Makna Parang Rusak
Varian ini memiliki legenda yang terkait dengan Panembahan Senopati saat bertapa di Pantai Selatan. Motif ini melambangkan perjuangan melawan kejahatan dengan mengendalikan hawa nafsu, sehingga pemakainya diharapkan menjadi pribadi yang bijaksana dan mulia.
Makna Parang Klitik
Berbeda dengan Parang Rusak yang berukuran besar dan tegas, Parang Klitik memiliki ukuran pola yang lebih kecil dan halus. Motif ini melambangkan kelembutan, kebijaksanaan, dan perilaku yang halus, sering kali dikenakan oleh para putri keraton.
Motif Udan Liris
Udan Liris berarti “hujan gerimis”. Motif ini terdiri dari berbagai macam pola kecil yang disusun berjajar secara diagonal, seolah-olah menggambarkan tetesan hujan yang turun. Setiap pola kecil di dalamnya memiliki makna tersendiri, seperti kesuburan, kemakmuran, dan harapan. Secara keseluruhan, Udan Liris adalah doa agar pemakainya selalu dilimpahi rahmat dan kesejahteraan.
Cara Membedakan Motif Lereng dengan Motif Geometris Lainnya
Untuk mengenali motif Lereng, kunci utamanya adalah melihat arah susunan polanya. Jika pola utama pada kain tersusun secara diagonal atau miring dari sudut ke sudut, maka dapat dipastikan itu termasuk dalam keluarga besar motif Lereng.
Ini berbeda dengan motif Ceplok yang polanya (seperti kotak, lingkaran, atau bintang) diulang-ulang memenuhi bidang kain seperti ubin. Ini juga berbeda dengan motif Kawung yang polanya terinspirasi dari buah kolang-kaling yang disusun simetris. Memahami perbedaan ini membantu kita mengidentifikasi bahwa dalam batik Jawa motif garis garis disebut motif Lereng, bukan sekadar motif geometris biasa.
Kesimpulan
Kini jelas sudah bahwa dalam batik Jawa motif garis garis disebut motif Lereng. Ini bukan sekadar istilah, melainkan sebuah gerbang untuk memahami salah satu kategori motif batik yang paling fundamental, bersejarah, dan sarat makna. Dari simbol perjuangan hidup dalam motif Parang hingga harapan akan kemakmuran pada motif Udan Liris, setiap garis diagonalnya bercerita tentang kearifan lokal nenek moyang.
Dengan mengenal dan memahami filosofi di balik motif Lereng, kita tidak hanya mengenakan selembar kain indah, tetapi juga membawa serta warisan nilai-nilai luhur yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Inilah kekayaan sejati dari batik Jawa yang patut kita banggakan dan lestarikan.