Jelaskan apa itu Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi berserta contohnya
Jawaban 1 :
Filsafat terdiri dari 3 cabang besar yaitu: Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi.
1. Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.
2. Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.
3. Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu.
Penjelasan:
**Ontologi :**
secara istilah berasal dari bahasa Yunani, Ontos yang berarti berwujud, sedangkan logos berarti ilmu atau teori. dengan demikian secara bahasa Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud, tentang hakikat yang ada.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. membahas tentang yang ada, yang universal dan menampilkan pemikiran semesta universal.
Contoh, misalnya ontologi rumah, Di zaman sekarang begitu banyak model dan bentuk dari rumah. Bahkan, sudah sangat umum rumah yang kita tempati saat ini bukan lagi berupa rumah yang berdiri menginjak tanah seperti yang biasa ada sejak zaman dahulu, melainkan berupa rumah susun ataupun apartemen yang dibangun bertingkat di sebidang lahan tertentu.
Menurut Plato, realitasnya adalah ide atau gambaran yang membuat kita selalu mengenali tentang rumah. Di tengah begitu banyak bentuk atau model-model rumah, namun ide tentang rumah ini yang membuat kita tetap mengenali bahwa apa yang kita lihat adalah rumah meskipun dari segi bentuknya sudah banyak berubah.
[+] Tambahan, Ada beberapa aliran dalam ontologi, beberapa aliran tersebut yaitu; Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Islam (Berhubung pertanyaannya adalah menjelaskan tentang 3 cabang filsafat, dan bukan penjelasan 4 aliran dalam ontologi, maka saya tidak menjelaskannya. mungkin anda bisa mencari sumber referensi lain :).
Epistemologi :
Secara Istilah, Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme yang artinya pengetahuan, dan Logos yang artinya diskurus.
Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
karena bahasa dari sumber referensi yang saya baca agak terlalu ribet bahasanya saya menyimpulkan bahwa epistemologi ini adalah cara manusia dalam memperoleh sebuah ilmu pengetahuan, jelas dengan caranya masing masing.
contoh : Misalnya Epistemologi dari sahabat kita ini adalah bagaimana cara kita mengetahui bahwa orang yang kita temui ini adalah orang yang sama dengan yang ada ingatan kita sejak 15 tahun lalu. Pada awalnya, kita akan menangkap keberadaan dan pengetahuan tentang rumah dan sahabat kita melalui panca indera yang kita punya. Informasi yang kita tangkap melalui panca indera itu selanjutnya akan dianalisa oleh otak atau akal yang kita miliki. Akal yang akan mengklasifikasinya informasi yang kita terima menjadi sebuah ilmu pengetahuan mengenai rumah dan sahabat kita. Inilah yang menjadi contoh kasus sederhana mengenai epistemologi dalam kehidupan sehari-hari.
Aksiologi :
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.
merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Jadi yang ingin dicapai oleh aksiologi adalah hakikat dan manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan.
pertanyaan yang bersangkutan seperti :
1. Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
2. Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
3. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
4. Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional? (filsafat etika).
Contoh ; Misalnya jika kita masih membahas mengenai ilmu pengetahuan tentang rumah seperti sebelumnya, maka dengan aksiologi kita mencoba untuk mengetahui apakah rumah memberi manfaat atau tidak untuk kehidupan kita sehari-hari.
dengan kita mengetahui bahwa sesuatu itu adalah rumah, kita bisa lebih mudah untuk menentukan dimana kita akan tinggal, tempat seperti apa yang nyaman untuk kita dan kita bisa mengenali bahwa rumah itu adalah komponen yang penting untuk kebahagiaan keluarga kita sehari-hari. Atau, jika kita membahas tentang sahabat, dengan aksiologi kita mengetahui apakah dengan kita masih mengenali sahabat lama kita memberi manfaat untuk kita.
Dijawab Oleh :
Noor Sjahid, S. Pd. M.Pd.
Jawaban 2 :
Filsafat terdiri dari 3 cabang besar yaitu: Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi.
1. Ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.
2. Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu.
3. Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu.
Dijawab Oleh :
Yuyun Yulianti, S. Pd.
Penjelasan :
Membedah Tiga Pilar Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu menyediakan kerangka kerja untuk menganalisis dan memahami proses perolehan pengetahuan secara sistematis. Dalam kerangka ini, ontologi, epistemologi, dan aksiologi berfungsi sebagai tiga kaki penyangga yang tak terpisahkan. Masing-masing menjawab pertanyaan fundamental yang berbeda namun saling berkaitan.
Bayangkan Anda sedang melakukan sebuah penelitian. Ontologi akan menentukan apa yang Anda teliti, epistemologi akan memandu bagaimana cara Anda menelitinya, dan aksiologi akan mempertanyakan mengapa dan untuk apa penelitian itu dilakukan. Dengan demikian, pemahaman yang komprehensif terhadap aspek ontologi epistemologi dan aksiologi menjadi kunci untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang valid dan bermanfaat.
Ontologi: Menyelami Hakikat “Apa yang Ada”
Ontologi adalah cabang filsafat yang paling dasar. Ia mempertanyakan hakikat dari realitas itu sendiri. Secara sederhana, ontologi berusaha menjawab pertanyaan, “Apa itu?” atau “Apa hakikat dari keberadaan sesuatu?”.
Definisi Ontologi
Secara etimologis, ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ontos yang berarti “yang berada” atau “keberadaan”, dan logos yang berarti “ilmu” atau “studi”. Jadi, ontologi adalah studi tentang hakikat keberadaan. Ia membahas tentang apa yang nyata, apa saja kategori dari benda-benda yang ada, dan bagaimana mereka saling berhubungan.
Contoh Sederhana Ontologi
Mari kita ambil contoh sebuah kursi. Pertanyaan ontologis tentang kursi adalah:
- Apa yang membuat sebuah benda disebut “kursi”?
- Apakah kursi harus memiliki empat kaki dan sandaran?
- Bagaimana jika sebuah batu besar nyaman untuk diduduki, apakah itu bisa disebut kursi?
- Apakah “ide” tentang kursi lebih nyata daripada kursi fisik itu sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggali hakikat atau esensi dari “kursi”, melampaui wujud fisiknya semata. Dalam konteks yang lebih luas, ontologi juga mempertanyakan keberadaan Tuhan, jiwa, atau konsep abstrak seperti keadilan.
Pentingnya Aspek Ontologi dalam Penelitian
Dalam sebuah penelitian, aspek ontologi menentukan objek formal yang akan dikaji. Misalnya, seorang peneliti sosial yang mengkaji “kemiskinan” harus terlebih dahulu mendefinisikan secara ontologis: Apa hakikat kemiskinan itu? Apakah ia sekadar kekurangan materi (pendapatan), atau mencakup aspek lain seperti akses pendidikan dan kesehatan? Definisi ontologis ini akan sangat memengaruhi seluruh arah penelitian.
Epistemologi: Menelusuri Jalan Menuju Pengetahuan
Jika ontologi bertanya “apa”, maka epistemologi bertanya “bagaimana”. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal-usul, sifat, metode, dan batasan-batasan pengetahuan manusia. Ia fokus pada cara kita memperoleh pengetahuan dan bagaimana kita bisa memvalidasinya.
Definisi Epistemologi
Istilah epistemologi juga berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme yang berarti “pengetahuan” dan logos yang berarti “ilmu”. Jadi, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Pertanyaan utamanya adalah, “Bagaimana kita tahu apa yang kita tahu?” dan “Apa yang membedakan antara keyakinan (belief) dengan pengetahuan (knowledge) yang benar?”.
Contoh Sederhana Epistemologi
Kembali ke contoh kursi. Pertanyaan epistemologisnya adalah:
- Bagaimana Anda tahu bahwa benda itu adalah kursi?
- Apakah karena Anda melihatnya dengan mata Anda (pengalaman indrawi)?
- Ataukah karena Anda memahami konsep dan definisi “kursi” dalam pikiran Anda (rasio/logika)?
- Ataukah karena orang lain memberitahu Anda bahwa itu adalah kursi (otoritas)?
Contoh lain yang lebih kompleks: Bagaimana kita tahu bahwa Bumi mengelilingi Matahari? Pengetahuan ini kita peroleh melalui metode ilmiah yang melibatkan observasi, perhitungan matematis, dan verifikasi berulang kali. Ini menunjukkan bagaimana epistemologi menentukan metode untuk mencapai kebenaran.
Peran Aspek Epistemologi dalam Metode Ilmiah
Aspek epistemologi adalah jantung dari metodologi penelitian. Pilihan metode penelitian sangat bergantung pada pandangan epistemologis seorang peneliti.
Empirisme
Paham ini meyakini bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi (observasi, eksperimen). Metode kuantitatif dalam sains alam dan sosial banyak bersandar pada paham ini.
Rasionalisme
Paham ini menyatakan bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal atau rasio (logika, deduksi). Matematika dan filsafat adalah contoh disiplin ilmu yang sangat mengandalkan rasionalisme.
Aksiologi: Mempertimbangkan Nilai dan Manfaat Ilmu
Setelah mengetahui hakikat sesuatu (ontologi) dan cara mendapat pengetahuannya (epistemologi), pilar terakhir adalah aksiologi. Aksiologi mempertanyakan “untuk apa” pengetahuan itu digunakan. Ia membahas tentang nilai, etika, dan estetika yang melekat pada ilmu pengetahuan.
Definisi Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata Yunani axios yang berarti “nilai” atau “layak” dan logos yang berarti “ilmu”. Aksiologi adalah teori tentang nilai. Ia terbagi menjadi dua cabang utama: etika (kajian tentang nilai kebaikan dan perilaku manusia) dan estetika (kajian tentang nilai keindahan).
Contoh Sederhana Aksiologi
Lagi-lagi dengan contoh kursi. Pertanyaan aksiologisnya adalah:
- Apa nilai guna dari kursi ini? (Untuk kenyamanan duduk).
- Apakah kursi ini dibuat dengan cara yang etis? (Tidak menggunakan pekerja anak, bahan ramah lingkungan).
- Apakah kursi ini memiliki nilai keindahan? (Desainnya menarik secara estetis).
Contoh yang lebih serius adalah pengembangan teknologi kloning atau kecerdasan buatan. Secara epistemologis, kita mungkin bisa melakukannya. Namun, secara aksiologis, kita harus bertanya: Apakah hal itu baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan? Apa implikasi etisnya?
Signifikansi Aspek Aksiologi dalam Etika Keilmuan
Aspek aksiologi memastikan bahwa ilmu pengetahuan tidak berjalan tanpa arah dan tujuan. Ia menjadi kompas moral bagi para ilmuwan dan peneliti. Seorang ilmuwan tidak hanya bertanggung jawab atas kebenaran temuannya (epistemologi), tetapi juga atas dampak dan penggunaan dari temuan tersebut. Aksiologi menuntut agar ilmu pengetahuan selalu diarahkan pada kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Keterkaitan Aspek Ontologi Epistemologi dan Aksiologi
Ketiga pilar ini tidak dapat berdiri sendiri. Mereka membentuk sebuah siklus yang saling menguatkan dalam membangun pengetahuan yang utuh.
Analogi sederhananya adalah membangun sebuah rumah:
- Ontologi: Anda menentukan apa yang akan dibangun. “Saya ingin membangun sebuah rumah tinggal yang kokoh”. Ini adalah penetapan hakikat objek.
- Epistemologi: Anda mencari tahu bagaimana cara membangunnya. Anda menggunakan ilmu arsitektur, teknik sipil, dan mengikuti langkah-langkah konstruksi yang benar. Ini adalah metode untuk mewujudkan objek.
- Aksiologi: Anda bertanya untuk apa rumah ini dibangun. “Untuk memberikan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi keluarga saya”. Ini adalah nilai dan tujuan akhir dari seluruh proses.
Tanpa tujuan (aksiologi), metode (epistemologi) menjadi tidak terarah. Tanpa metode yang benar, hakikat objek (ontologi) tidak akan pernah terwujud dengan baik. Oleh karena itu, ketiga aspek ontologi epistemologi dan aksiologi merupakan satu kesatuan yang koheren dalam filsafat ilmu.
Kesimpulan
Memahami ontologi, epistemologi, dan aksiologi membuka cakrawala baru dalam cara kita memandang pengetahuan. Ontologi mengklarifikasi “apa” yang kita bicarakan, epistemologi memberikan jalan “bagaimana” kita mengetahuinya, dan aksiologi memberikan makna “untuk apa” pengetahuan itu diperjuangkan.
Ketiganya adalah fondasi berpikir kritis yang esensial di era informasi saat ini. Dengan membekali diri melalui pemahaman mendalam terhadap aspek ontologi epistemologi dan aksiologi, kita tidak hanya menjadi konsumen informasi yang pasif, tetapi juga menjadi produsen dan evaluator pengetahuan yang lebih bijaksana, bertanggung jawab, dan berorientasi pada nilai-nilai kebaikan.