Apa yang dilakukan Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11. Plis brianly jawab nanti aku kasih poin 50

Apa yang dilakukan Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11. Plis brianly jawab nanti aku kasih poin 50

Jawaban 1 :

Kisah tragis Ananias dan Safira adalah bahwa mereka mendustai Roh Kudus karena dikuasai Iblis. Harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki Rasul (Petrus). Suami istri ini berkomplot untuk berdusta.

Dijawab Oleh :

Noor Sjahid, S. Pd. M.Pd.

Jawaban 2 :

kisah tragis ananias dan safira adalah bahwa mereka mendustai roh kudus karena di kuasai iblis.Harta hasil penjualan tanahnya tidak di berikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki rasul(petrus).suami istri ini berkomplot untuk berdustu

Dijawab Oleh :

Yuyun Yulianti, S. Pd.

Penjelasan :

Latar Belakang Komunitas Jemaat Perdana

Untuk memahami kesalahan fatal Ananias dan Safira, kita harus melihat konteks kehidupan jemaat pada saat itu. Setelah pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta, gereja mula-mula mengalami pertumbuhan yang pesat. Salah satu ciri khas mereka adalah persatuan dan kesatuan hati yang luar biasa.

Dalam Kisah Para Rasul 4:32-35, diceritakan bahwa “segenap orang yang percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” Mereka dengan sukarela menjual harta milik mereka dan membawa hasilnya kepada para rasul untuk dibagikan kepada siapa saja yang berkekurangan. Ini bukan paksaan, melainkan buah dari kasih dan iman yang tulus. Salah satu teladan positif yang disorot adalah Barnabas, yang menjual ladangnya dan meletakkan uangnya di kaki para rasul (Kisah Para Rasul 4:36-37).

Baca Juga:  Bagaimana penulisan surat lamaran pekerjaan yang baik! Tuliskan sistematika penulisan surat lamaran pekerjaan?​

Kronologi Dosa Ananias dan Safira

Di tengah atmosfer kemurahan hati yang tulus inilah Ananias dan Safira muncul. Tindakan mereka, yang pada awalnya tampak serupa dengan Barnabas, ternyata memiliki motivasi yang sangat berbeda. Kisah para rasul 5 1 11 menguraikan peristiwa ini langkah demi langkah dengan sangat jelas.

Penjualan Tanah dan Niat yang Tersembunyi

Ananias, bersama dengan istrinya, Safira, juga menjual sebidang tanah milik mereka. Namun, sebelum menyerahkan hasilnya kepada para rasul, mereka bersekongkol untuk menahan sebagian dari uang hasil penjualan itu untuk diri mereka sendiri.

Masalah utamanya bukanlah fakta bahwa mereka menahan sebagian uang tersebut. Seperti yang akan dijelaskan oleh Petrus nanti, tanah dan uang itu sepenuhnya adalah milik mereka. Dosa mereka terletak pada penipuan dan kemunafikan. Mereka ingin tampil sebagai orang yang murah hati dan saleh seperti Barnabas, yang menyerahkan seluruh hasil penjualan, padahal kenyataannya tidak demikian.

Konfrontasi Petrus dengan Ananias

Ananias kemudian datang menghadap para rasul dan meletakkan sebagian uang itu di kaki mereka, berpura-pura bahwa itu adalah jumlah keseluruhan hasil penjualan. Namun, Roh Kudus menyingkapkan kebohongan ini kepada Petrus.

Petrus langsung mengonfrontasinya, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” (Kisah Para Rasul 5:3). Petrus menegaskan bahwa Ananias tidak sedang mendustai manusia, tetapi mendustai Allah. Mendengar perkataan itu, Ananias langsung rebah dan putus nyawa. Peristiwa ini menimbulkan ketakutan yang luar biasa di antara semua orang yang mendengarnya.

Kedatangan Safira dan Kebohongan yang Sama

Sekitar tiga jam kemudian, Safira, yang tidak tahu apa yang telah terjadi pada suaminya, masuk ke tempat itu. Petrus memberinya kesempatan untuk berkata jujur dengan bertanya, “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?”

Baca Juga:  Dalam surah Al Mu'min ayat 60 Allah berjanji bahwa

Tragisnya, Safira mengulangi kebohongan yang sama dengan suaminya, dan berkata, “Betul, dengan harga sekian.” Jawaban ini menyegel nasibnya. Petrus kemudian berkata, “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.” Seketika itu juga, ia rebah di depan kaki Petrus dan putus nyawa.

Menganalisis Akar Masalah: Dosa yang Sebenarnya

Untuk benar-benar memahami tragedi dalam kisah para rasul 5 1 11, kita perlu menggali lebih dalam apa inti dosa yang mereka lakukan. Ini bukan sekadar tentang uang atau kepemilikan harta.

Bukan Soal Uang, Tetapi Soal Hati

Penting untuk digarisbawahi bahwa Ananias dan Safira tidak dihukum karena tidak memberikan seluruh uang mereka. Petrus sendiri menegaskan hal ini kepada Ananias, “Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu?” (Kisah Para Rasul 5:4). Mereka bebas melakukan apa pun dengan harta mereka.

Dosa mereka adalah:

  • Kemunafikan: Mereka ingin mendapatkan reputasi sebagai orang yang sangat rohani dan dermawan tanpa benar-benar melakukan pengorbanan yang sesuai.
  • Keserakahan: Mereka menginginkan pujian dari manusia sekaligus kenyamanan materi.
  • Keangkuhan: Mereka berpikir bisa menipu komunitas orang percaya dan, yang lebih parah, menipu Tuhan.

Mendustai Roh Kudus

Tuduhan utama Petrus adalah bahwa mereka “mendustai Roh Kudus” dan “mencobai Roh Tuhan”. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran mereka.

Apa Artinya Mendustai Roh Kudus?

Mendustai Roh Kudus berarti melakukan kebohongan yang ditujukan langsung kepada hadirat dan otoritas Allah yang bekerja secara aktif di tengah umat-Nya. Pada masa itu, Roh Kudus bekerja dengan sangat nyata dalam kehidupan jemaat. Ananias dan Safira tidak hanya menipu Petrus atau jemaat, tetapi mereka secara sadar menantang dan meremehkan kuasa Allah yang Mahatahu.

Baca Juga:  Hadits ridho allah tergantung ridho kedua orang tua

Konsekuensi Spiritual yang Serius

Tindakan mereka mengancam kemurnian dan integritas gereja yang baru lahir. Jika dosa semacam ini dibiarkan, gereja bisa dipenuhi oleh kepura-puraan. Hukuman yang begitu cepat dan keras dari Tuhan berfungsi sebagai tanda yang jelas bahwa Ia menuntut kekudusan dan kejujuran di dalam umat-Nya.

Dampak dan Pelajaran dari Kisah Para Rasul 5:1-11

Peristiwa tragis ini meninggalkan dampak yang mendalam bagi jemaat mula-mula. Alkitab mencatat bahwa “maka ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu” (Kisah Para Rasul 5:11). Rasa takut ini bukanlah ketakutan yang negatif, melainkan rasa hormat dan gentar yang kudus terhadap Allah.

Pelajaran dari kisah ini tetap relevan hingga hari ini:

  1. Tuhan Membenci Kemunafikan: Ia lebih menghargai pemberian kecil yang tulus daripada persembahan besar yang dilandasi kepura-puraan.
  2. Integritas Hati Lebih Penting dari Penampilan Luar: Tuhan melihat motivasi di balik setiap tindakan kita.
  3. Dosa di Dalam Komunitas Itu Serius: Ketidakjujuran dapat merusak kesaksian dan persekutuan orang percaya.
  4. Tidak Ada yang Tersembunyi di Hadapan Tuhan: Kita tidak dapat menipu Allah yang mengetahui isi hati setiap manusia.

Kesimpulan

Jadi, apa yang dilakukan Ananias dan Safira dalam kisah para rasul 5 1 11? Mereka bersekongkol untuk menipu jemaat dan para rasul dengan berpura-pura menyerahkan seluruh hasil penjualan tanah mereka, padahal mereka telah menahan sebagian untuk diri sendiri. Dosa utama mereka bukanlah menahan uang, melainkan kebohongan, kemunafikan, dan usaha untuk mendustai Roh Kudus. Peristiwa ini menjadi sebuah peringatan keras tentang betapa pentingnya hidup dalam kejujuran dan integritas total di hadapan Tuhan, yang tidak hanya melihat tindakan kita, tetapi juga menyelidiki kedalaman hati kita.

Tinggalkan komentar