Tari cente manis berasal dari
Jawaban 1 :
berasal dari betawi, jakarta
Dijawab Oleh :
Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.
Jawaban 2 :
berasal dari betawi, jakarta
Dijawab Oleh :
Ahmad Hidayat, S. Pd.
Penjelasan :
Asal Usul Tari dan Lagu Cente Manis: Jantung Budaya Betawi
Pertanyaan mendasar seperti lagu cente manis berasal dari mana memiliki jawaban yang tegas dan jelas: Betawi. Kesenian ini merupakan salah satu warisan budaya asli suku Betawi, masyarakat yang telah lama mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya. Baik tarian maupun lagunya lahir dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Betawi yang dinamis.
Cente Manis pada awalnya lebih dikenal sebagai sebuah lagu anak-anak. Lagu ini memiliki melodi yang sederhana, riang, dan lirik yang mudah dihafal, menjadikannya populer di kalangan anak-anak Betawi sebagai lagu permainan. Seiring waktu, popularitas lagu ini menginspirasi penciptaan sebuah tarian yang merepresentasikan keceriaan dan kelincahan yang terkandung dalam musiknya. Dengan demikian, lahirlah Tari Cente Manis sebagai visualisasi dari alunan musiknya.
Mengupas Makna di Balik Lagu dan Tari Cente Manis
Setiap karya seni tradisional tidak hanya indah secara visual atau audio, tetapi juga sarat akan makna dan filosofi. Hal ini juga berlaku untuk Tari dan Lagu Cente Manis yang menyimpan pesan sederhana namun mendalam, terutama tentang dunia anak-anak dan nilai-nilai sosial masyarakat Betawi.
Lagu Ceria untuk Anak-Anak
Fungsi utama dari lagu Cente Manis adalah sebagai lagu pengiring permainan anak-anak. Liriknya yang ringan dan repetitif membuatnya mudah dinyanyikan bersama-sama. Tema yang diangkat pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, menggambarkan kegembiraan, persahabatan, dan keindahan sederhana yang dilihat dari mata seorang anak. Inilah yang menjadi jawaban mengapa melodi lagu cente manis berasal dari nuansa yang begitu positif dan membangkitkan semangat.
Simbolisme dalam Lirik dan Gerakan
Secara harfiah, “Cente Manis” dapat diartikan sebagai tahi lalat yang manis, yang dalam budaya Betawi sering dianggap sebagai pemanis wajah atau penambah pesona seseorang. Lagu ini menggunakan analogi tersebut untuk menggambarkan kecantikan dan daya tarik seorang gadis cilik yang lugu dan ceria.
Gerakan dalam Tari Cente Manis pun selaras dengan makna lagu. Tarian ini didominasi oleh gerakan yang lincah, dinamis, dan ekspresif. Setiap gerakannya mencerminkan tingkah laku anak-anak yang sedang bermain, penuh tawa, dan bebas tanpa beban. Ini adalah cerminan dari filosofi hidup masyarakat Betawi yang cenderung terbuka dan humoris.
Peran Musik dalam Budaya Betawi
Musik pengiring Tari Cente Manis biasanya menggunakan irama dari orkes Gambang Kromong, sebuah ansambel musik khas Betawi yang merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa, Melayu, dan Sunda. Penggunaan Gambang Kromong memperkuat identitas ke-Betawi-an dari kesenian ini. Iramanya yang khas membuat siapapun yang mendengarnya akan langsung teringat pada suasana Jakarta tempo dulu.
Keindahan Gerak, Busana, dan Musik Tari Cente Manis
Sebagai sebuah tarian, Cente Manis memiliki elemen-elemen khas yang membuatnya mudah dikenali dan menarik untuk disaksikan. Kombinasi dari gerak, busana, dan musiknya menciptakan sebuah pertunjukan yang harmonis dan memukau.
Karakteristik Gerakan yang Lincah
Tari Cente Manis tidak memiliki gerakan yang rumit atau sakral. Fokus utamanya adalah pada kelincahan dan keceriaan penari. Beberapa gerakan dasar yang sering muncul antara lain:
- Gerak tangan yang dinamis: Mengayun, melambai, dan menepuk tangan seirama dengan musik.
- Langkah kaki yang riang: Gerakan seperti berlari-lari kecil, melompat, dan berputar.
- Ekspresi wajah yang gembira: Penari selalu menampilkan senyum cerah yang menularkan energi positif kepada penonton.
Gerakan-gerakan ini sengaja dibuat sederhana agar mudah dipelajari oleh anak-anak, sesuai dengan asal-usulnya sebagai tarian anak-anak.
Busana Penuh Warna Khas Betawi
Salah satu daya tarik utama dari Tari Cente Manis adalah kostumnya yang cerah dan berwarna-warni, mencerminkan semangat tarian itu sendiri.
Busana Penari Wanita
Penari wanita biasanya mengenakan pakaian khas none Jakarta, yang terdiri dari:
- Baju Kurung atau Kebaya Encim: Pakaian atasan dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, atau hijau.
- Kain Batik Betawi: Kain bawahan dengan motif khas Betawi.
- Selendang: Selendang yang disampirkan di bahu atau pinggang yang ikut melambai seiring gerakan penari.
- Hiasan Kepala: Sering kali menggunakan kembang goyang atau hiasan bunga untuk mempermanis penampilan.
Busana Penari Pria
Meskipun lebih sering ditarikan oleh perempuan, jika ada penari pria, mereka akan mengenakan pakaian khas abang Jakarta seperti baju sadariah (baju koko), celana bahan, dan peci.
Eksistensi Cente Manis di Era Modern
Di tengah gempuran budaya modern, Tari dan Lagu Cente Manis tetap bertahan sebagai bagian penting dari identitas budaya Betawi. Berbagai sanggar tari di Jakarta dan sekitarnya aktif mengajarkan tarian ini kepada generasi muda. Tarian ini juga sering ditampilkan dalam berbagai acara kebudayaan, festival seni, hingga acara penyambutan tamu.
Upaya pelestarian ini sangat krusial agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak budayanya. Dengan terus memperkenalkan dan mementaskan kesenian ini, masyarakat akan selalu ingat bahwa lagu cente manis berasal dari akar budaya Betawi yang kaya dan patut dibanggakan. Sekolah-sekolah di Jakarta juga sering memasukkan tarian ini sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal kesenian daerah.
Kesimpulan
Tari dan lagu Cente Manis berasal dari jantung kebudayaan Betawi di Jakarta. Kesenian ini adalah paket lengkap yang merepresentasikan keceriaan, keluguan, dan semangat hidup masyarakatnya, khususnya anak-anak. Berawal dari sebuah lagu permainan sederhana, Cente Manis berevolusi menjadi sebuah tarian yang indah dengan gerakan lincah, busana penuh warna, dan diiringi oleh musik Gambang Kromong yang khas.
Sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, melestarikan Tari dan Lagu Cente Manis adalah tanggung jawab bersama. Dengan memahami asal-usul dan maknanya, kita tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga turut menjaga agar api kebudayaan Betawi terus menyala terang untuk generasi-generasi yang akan datang.