Nasehat imam syafi’i tentang ilmu tulisan arab beserta artinya Tolong dibantu
Jawaban 1 :
من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته
“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan ”
Dijawab Oleh :
Yuyun Yulianti, S. Pd.
Jawaban 2 :
من لم يذق مر التعلم ساعة, تجرع ذل الجهل طول حياته
“Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan ”
Dijawab Oleh :
Noor Sjahid, S. Pd. M.Pd.
Penjelasan :
Mengenal Imam Syafi’i: Lautan Ilmu dan Hikmah
Sebelum menyelami nasihat-nasihatnya, penting untuk mengenal sosok di baliknya. Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abū ʿAbdullāh Muḥammad ibn Idrīs al-Shāfiʿī. Beliau lahir di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H (767 M) dan wafat di Mesir pada tahun 204 H (820 M).
Beliau adalah pendiri mazhab Syafi’i dalam fikih Islam, salah satu dari empat mazhab besar yang dianut oleh mayoritas umat Muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Kecerdasan dan daya ingatnya yang luar biasa sudah terlihat sejak kecil. Tidak hanya ahli dalam ilmu agama, beliau juga seorang sastrawan dan penyair ulung, yang membuat nasihat-nasihatnya sering kali tersampaikan dalam bentuk syair yang memukau.
Pentingnya Ilmu dalam Pandangan Imam Syafi’i
Bagi Imam Syafi’i, ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan kehidupan. Beliau memandang bahwa proses menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan suci yang membutuhkan pengorbanan, kesungguhan, dan adab. Beliau menekankan bahwa ilmu tidak akan bisa diraih dengan bermalas-malasan atau dalam zona nyaman.
Pandangan ini tercermin dalam banyak syair dan prosa beliau. Salah satu kata mutiara imam syafi i bahasa arab yang paling fundamental dan sering dikutip oleh para penuntut ilmu adalah syairnya tentang syarat-syarat meraih ilmu.
Enam Syarat Meraih Ilmu yang Wajib Diketahui
Imam Syafi’i merangkum syarat-syarat utama dalam menuntut ilmu dalam sebuah syair yang sangat terkenal. Syair ini menjadi pedoman bagi setiap pelajar di berbagai belahan dunia.
أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ
سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ
وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
Artinya:
“Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara.
Akan kuberitahukan perinciannya dengan jelas:
Kecerdasan, semangat, kesungguhan, biaya,
bersahabat (belajar) dengan guru, dan waktu yang panjang.”
Mari kita bedah keenam syarat tersebut:
- Kecerdasan (ذَكَاءٌ): Ini adalah modal awal, yaitu kemampuan akal untuk memahami dan menyerap ilmu.
- Semangat (حِرْصٌ): Keinginan yang kuat dan membara untuk terus belajar tanpa pernah merasa puas.
- Kesungguhan (وَاجْتِهَادٌ): Bekerja keras, tekun, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi kesulitan belajar.
- Biaya (وَدِرْهَمٌ): Bekal yang cukup, baik untuk membeli buku, transportasi, maupun kebutuhan hidup selama menuntut ilmu.
- Bimbingan Guru (وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ): Pentingnya peran seorang pembimbing atau guru yang dapat menunjukkan arah dan meluruskan kesalahan.
- Waktu yang Panjang (وَطُوْلُ زَمَانٍ): Proses belajar membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi; bukan sesuatu yang instan.
Ilmu Tidak Akan Didapat dengan Santai
Menegaskan poin kesungguhan, Imam Syafi’i juga mengingatkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang berharga dan tidak bisa diraih dengan sikap santai dan hidup bermewahan.
لاَ يُدْرَكُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ
Artinya:
“Ilmu tidak akan didapatkan dengan tubuh yang bersantai-santai.”
Nasihat singkat namun padat ini mengajarkan bahwa harus ada pengorbanan, termasuk mengorbankan waktu istirahat dan kenyamanan fisik, untuk dapat benar-benar mendalami sebuah ilmu.
Keutamaan Merantau untuk Menuntut Ilmu
Salah satu tema yang sering diangkat dalam syair Imam Syafi’i adalah anjuran untuk merantau atau bepergian meninggalkan kampung halaman demi mencari ilmu dan pengalaman.
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضًا عَمَّنْ تُفَارِقُهُ
وَانْصَبْ فَإِنَّ لَذِيْذَ العَيْشِ فِي النَّصَبِ
Artinya:
“Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari apa yang engkau tinggalkan.
Dan berlelah-lelahlah, karena sesungguhnya kenikmatan hidup ada dalam kelelahan.”
Beliau percaya bahwa dengan merantau, seseorang akan mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak akan ditemui jika hanya berdiam di satu tempat.
Kumpulan Kata Mutiara Imam Syafi’i Bahasa Arab dan Artinya
Selain nasihat panjang tentang ilmu, terdapat banyak sekali potongan hikmah yang menjadi kata mutiara imam syafi i bahasa arab. Berikut adalah beberapa di antaranya yang dikelompokkan berdasarkan tema.
Tentang Kesabaran dan Ujian Hidup
Imam Syafi’i mengajarkan untuk selalu bersikap sabar dan lapang dada dalam menghadapi setiap takdir dan cobaan dari Allah SWT.
Nasehat untuk Bersabar
دَعِ الأَيَّامَ تَفْعَل مَا تَشَاءُ
وَطِبْ نَفْسًا إِذَا حَكَمَ القَضَاءُ
Artinya:
“Biarkan hari-hari berbuat sesukanya.
Dan lapangkanlah dada ketika takdir telah memutuskan.”
Syair ini mengajarkan sikap tawakal dan penerimaan. Setelah berusaha maksimal, serahkan hasilnya kepada Allah dan terimalah setiap ketetapan-Nya dengan hati yang ridha.
Ujian sebagai Tanda Kebaikan
وَلَا تَجْزَعَنَّ مِنْ حَادِثَةِ اللَّيَالِي
فَمَا لِحَوَادِثِ الدُّنْيَا بَقَاءُ
Artinya:
“Janganlah engkau bersedih atas peristiwa yang terjadi di malam hari (musibah).
Karena sesungguhnya semua peristiwa di dunia ini tidak ada yang abadi.”
Nasihat ini mengingatkan kita bahwa setiap kesulitan pasti akan berlalu. Kesabaran dalam menghadapinya akan membuahkan hasil yang baik di kemudian hari.
Tentang Akhlak dan Menjaga Lisan
Bagi Imam Syafi’i, ilmu harus selaras dengan akhlak. Salah satu akhlak terpenting adalah kemampuan menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia atau menyakitkan.
Diam Itu Emas
إِذَا نَطَقَ السَّفِيْهُ فَلاَ تُجِبْهُ
فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوْتُ
Artinya:
“Apabila orang bodoh berbicara, janganlah engkau menanggapinya.
Karena sesungguhnya diam adalah jawaban terbaik baginya.”
Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana merespons provokasi. Meladeni orang yang tidak berilmu hanya akan membuang waktu dan menurunkan martabat diri.
Menilai Seseorang dari Perbuatannya
لِسَانُكَ لَا تَذْكُرْ بِهِ عَوْرَةَ امْرِئٍ
فَكُلُّكَ عَوْرَاتٌ وَلِلنَّاسِ أَلْسُنٌ
Artinya:
“Jangan gunakan lisanmu untuk membicarakan aib orang lain.
Karena dirimu pun punya aib dan orang lain pun punya lisan.”
Sebuah nasihat yang sangat relevan, terutama di era media sosial. Ini adalah pengingat untuk introspeksi diri sebelum menghakimi orang lain.
Mengamalkan Nasihat Imam Syafi’i di Era Modern
Meskipun hidup berabad-abad yang lalu, hikmah dan kata mutiara imam syafi i bahasa arab tetap sangat aplikatif. Nasihat tentang “merantau” bisa dimaknai sebagai keberanian untuk keluar dari zona nyaman, baik dengan melanjutkan studi ke kota lain, bekerja di luar negeri, atau sekadar membuka diri pada lingkungan dan pengalaman baru.
Anjuran untuk “bersungguh-sungguh” dan “tidak bersantai” menjadi pengingat bagi generasi modern untuk disiplin dan tidak mudah terdistraksi oleh hiburan instan. Sementara itu, nasihat tentang “menjaga lisan” adalah panduan etika digital yang sangat krusial di tengah maraknya ujaran kebencian dan hoaks di internet.
Kesimpulan
Imam Syafi’i adalah samudra ilmu yang warisannya terus mengalir hingga kini. Nasihat-nasihatnya, terutama yang berkaitan dengan ilmu, kesabaran, dan akhlak, merupakan peta jalan bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Kumpulan kata mutiara imam syafi i bahasa arab bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan esensi dari pengalaman, perenungan, dan kebijaksanaan mendalam.
Mempelajari, merenungkan, dan berusaha mengamalkan nasihat-nasihat beliau adalah cara terbaik untuk menghormati warisan sang imam agung. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran berharga dari untaian hikmahnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berilmu, dan lebih bijaksana.