Seni tradisional khas jawa timur adalah

Seni tradisional khas jawa timur adalah ?
a. lenong
b.mamanda
c. ludruk
d. kethoprak
e.makyong

Jawaban 1 : 

jawabnnya c. Ludruk dari jawa timur

kalo ketoprak dr jawa tengah

Dijawab Oleh : 

Ahmad Hidayat, S. Pd.

Jawaban 2 : 

Seni tradisional khas Jawa Timur adalah D. Kethoprak

Dijawab Oleh : 

Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.

Penjelasan :

Menjawab Pertanyaan: Seni Tradisional Khas Jawa Timur Adalah Ludruk

Secara tegas dan jelas, jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan “seni tradisional khas jawa timur adalah…” adalah Ludruk. Ludruk merupakan sebuah bentuk drama atau teater rakyat yang sepenuhnya berakar dan berkembang di tengah masyarakat Jawa Timur. Kesenian ini menjadi wadah ekspresi, kritik sosial, sekaligus hiburan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warganya.

Berbeda dengan seni teater lain yang mungkin mengangkat kisah-kisah kerajaan atau legenda agung, Ludruk justru mengambil cerita dari problematika rakyat jelata. Tema yang diangkat bisa berupa perjuangan ekonomi, kisah rumah tangga, hingga sindiran halus terhadap kebijakan pemerintah. Inilah yang membuat seni tradisional khas Jawa Timur adalah cerminan sejati dari denyut nadi kehidupan masyarakatnya.

Mengapa Bukan Lenong, Mamanda, Kethoprak, atau Makyong?

Untuk memahami mengapa Ludruk adalah jawaban yang benar, penting untuk mengetahui asal-usul kesenian lain yang menjadi pilihan dalam pertanyaan tersebut. Setiap kesenian ini memiliki keunikan dan daerah asalnya masing-masing yang membedakannya dari Ludruk.

Baca Juga:  Tuliskan not angka lagu tujh mein rab dikhta hai! tolong ya kak! makasih

Lenong: Ikon Kesenian Betawi

Lenong adalah teater tradisional yang berasal dari masyarakat Betawi, Jakarta. Kesenian ini sangat identik dengan penggunaan dialek Betawi yang kental, diiringi musik Gambang Kromong, dan sering kali disisipi dengan adegan perkelahian atau silat. Ceritanya pun berkisar pada kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu, dengan tokoh-tokoh ikonik seperti jagoan dan tuan tanah. Jelas, Lenong bukanlah kesenian dari Jawa Timur.

Kethoprak: Drama Klasik dari Jawa Tengah dan Yogyakarta

Kethoprak seringkali dianggap mirip dengan Ludruk karena sama-sama berasal dari Jawa. Namun, terdapat perbedaan fundamental di antara keduanya. Kethoprak lahir dan berkembang di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Ciri utamanya adalah:

  • Bahasa: Menggunakan bahasa Jawa halus (krama inggil), terutama saat adegan di dalam istana.
  • Cerita: Latar ceritanya sering kali berasal dari sejarah kerajaan-kerajaan besar di Jawa seperti Mataram, Demak, atau Majapahit.
  • Iringan Musik: Menggunakan iringan gamelan Jawa klasik yang agung.

Perbedaan inilah yang menegaskan bahwa Kethoprak bukan jawaban untuk seni tradisional khas Jawa Timur adalah apa, melainkan milik Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Mamanda dan Makyong: Pesona Teater dari Tanah Melayu

Dua opsi lainnya, Mamanda dan Makyong, berasal dari rumpun budaya Melayu yang letaknya jauh dari Jawa Timur.

  • Mamanda adalah seni teater tradisional yang populer di kalangan suku Banjar di Kalimantan Selatan. Pertunjukannya memiliki struktur baku dan mengangkat cerita tentang kehidupan istana.
  • Makyong merupakan seni teater tradisional yang berasal dari wilayah Riau dan Kepulauan Riau, bahkan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Pertunjukannya menggabungkan unsur ritual, tarian, nyanyian, dan musik.

Dengan demikian, sangat jelas bahwa baik Mamanda maupun Makyong tidak memiliki kaitan historis maupun geografis dengan Jawa Timur.

Baca Juga:  125 Gram berapa sendok makan ... ? 25 Gram berapa sendok makan ... ?

Ludruk: Lebih dari Sekadar Tontonan, Cermin Kehidupan Rakyat Jelata

Setelah memahami perbedaannya dengan kesenian lain, mari kita selami lebih dalam apa yang membuat Ludruk begitu istimewa. Memahami bahwa seni tradisional khas Jawa Timur adalah Ludruk berarti kita harus mengenali karakteristik unik yang dimilikinya.

Asal-Usul dan Sejarah Singkat Ludruk

Ludruk diyakini berasal dari Jombang, Jawa Timur, dan berakar dari kesenian rakyat bernama Lerok. Pada awalnya, Lerok adalah pertunjukan keliling yang dimainkan oleh seorang pria sambil membawa gedhog (kotak perkakas). Seiring waktu, pertunjukan ini berkembang dengan penambahan pemain dan cerita yang lebih kompleks, hingga akhirnya bertransformasi menjadi bentuk Ludruk yang kita kenal sekarang. Salah satu tokoh yang sangat berjasa dalam mempopulerkan Ludruk sebagai media perjuangan adalah Cak Durasim pada masa penjajahan Jepang.

Karakteristik Unik yang Membedakan Ludruk

Ludruk memiliki beberapa pilar utama yang menjadi ciri khasnya dan tidak ditemukan dalam teater tradisional lain.

Bahasa Suroboyoan dan Humor yang Merakyat

Salah satu kekuatan terbesar Ludruk adalah penggunaan bahasa Jawa dialek Suroboyoan (khas Surabaya dan sekitarnya). Bahasa ini dikenal ceplas-ceplos, egaliter, dan terkadang kasar, namun justru inilah yang membuatnya terasa otentik dan dekat dengan penonton. Humor yang disajikan pun sangat segar, spontan, dan sering kali berupa dagelan atau lawakan yang mengocok perut.

Peran Wanita yang Dimainkan Pria (Tandhak)

Ciri khas yang sangat ikonik dari Ludruk tradisional adalah semua perannya, termasuk peran wanita, dimainkan oleh pria. Pemeran wanita ini disebut tandhak. Seorang tandhak harus mampu berakting, menari, dan bernyanyi layaknya seorang wanita tulen. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri dan menunjukkan kualitas akting para pemainnya.

Baca Juga:  Hewan yang terkenal di Irian Jaya adalah....​

Ludruk di Era Modern: Tantangan dan Upaya Pelestarian

Seperti banyak seni tradisional lainnya, Ludruk menghadapi tantangan berat di era modern. Gempuran hiburan digital, perubahan selera generasi muda, dan berkurangnya seniman regenerasi menjadi ancaman bagi kelestariannya. Banyak grup Ludruk yang dahulu berjaya kini harus berjuang untuk tetap bisa menggelar pertunjukan.

Namun, harapan tidak sepenuhnya padam. Berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, baik oleh pemerintah daerah, komunitas seni, maupun para seniman itu sendiri. Beberapa grup Ludruk mulai beradaptasi dengan memasukkan unsur-unsur modern dalam pertunjukannya agar lebih relevan dengan penonton masa kini. Festival dan kompetisi Ludruk juga rutin digelar untuk menjaga gairah dan eksistensi kesenian ini.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran asal-usul dan karakteristiknya, tidak ada keraguan lagi bahwa seni tradisional khas Jawa Timur adalah Ludruk. Ia bukan Lenong dari Betawi, bukan Kethoprak dari Jawa Tengah, dan tentu saja bukan Mamanda atau Makyong dari rumpun Melayu. Ludruk adalah suara, tawa, dan tangis masyarakat Jawa Timur yang terwujud dalam sebuah panggung sederhana.

Melalui lawakan yang segar, cerita yang membumi, dan iringan gamelan yang khas, Ludruk telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa Timur. Mengenal dan menghargai Ludruk adalah langkah kecil untuk memastikan bahwa warisan budaya yang luar biasa ini tidak akan pernah lekang oleh waktu dan terus dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Tinggalkan komentar