Seni tradisional khas jawa timur adalah a. lenong b.mamanda c. ludruk d. kethoprak e.makyong

Seni tradisional khas jawa timur adalah
a. lenong
b.mamanda
c. ludruk
d. kethoprak
e.makyong

Jawaban 1 : 

jawabnnya c. Ludruk dari jawa timur

kalo ketoprak dr jawa tengah

Dijawab Oleh : 

Ahmad Hidayat, S. Pd.

Jawaban 2 : 

Seni tradisional khas Jawa Timur adalah D. Kethoprak

Dijawab Oleh : 

Dedi Setiadi, S. Pd. M.Pd.

Penjelasan :

Menjawab Pertanyaan: Seni Tradisional Khas Jawa Timur Adalah Ludruk

Jika dihadapkan pada pilihan ganda seperti di atas, maka jawaban yang paling tepat dan tidak terbantahkan adalah c. Ludruk. Ludruk merupakan sebuah bentuk teater rakyat atau drama tradisional yang lahir, tumbuh, dan mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat Jawa Timur, khususnya di daerah arek seperti Surabaya, Jombang, dan sekitarnya.

Berbeda dengan seni teater lain yang sering kali mengambil latar cerita kerajaan, seni tradisional khas Jawa Timur adalah Ludruk, yang mengangkat kisah-kisah kehidupan sehari-hari rakyat jelata. Tema yang diusung sangat membumi, mulai dari problematika keluarga, perjuangan ekonomi, hingga kritik sosial yang dibalut dengan humor segar. Inilah yang membuat Ludruk begitu dekat dan dicintai oleh masyarakatnya.

Mengenal Ludruk Lebih Dekat: Jantung Kesenian Rakyat Jawa Timur

Untuk memahami mengapa Ludruk menjadi jawaban definitif, penting bagi kita untuk menyelami lebih dalam keunikan dan karakteristik yang dimilikinya. Ludruk lebih dari sekadar tontonan; ia adalah panggung ekspresi, cerminan realitas, sekaligus media kritik yang efektif.

Baca Juga:  bagaimana penulisan gelar sarjana keperawatan yang benar apabila telah menempuh pendidikan selama 5 tahun ( 4 tahun, 1 tahun untuk mendapatkan gelar ners) ? berikan contohnya.

Sejarah dan Asal-Usul Ludruk

Meskipun sulit untuk menentukan tanggal pasti kelahirannya, banyak sejarawan seni percaya bahwa cikal bakal Ludruk sudah ada sejak abad ke-19. Konon, kesenian ini berawal dari Jombang dan berkembang dari seni pertunjukan jalanan yang disebut lerok. Seorang seniman legendaris bernama Pak Santik disebut-sebut sebagai tokoh yang mempopulerkan bentuk awal Ludruk dengan berkeliling sambil membawa peralatan musik seadanya.

Seiring waktu, pertunjukan ini berevolusi menjadi sebuah pementasan panggung yang lebih terstruktur. Puncaknya terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan, di mana Ludruk sering kali digunakan sebagai media untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan mengkritik penjajah secara terselubung melalui lawakan dan dialog cerdasnya.

Ciri Khas yang Membuat Ludruk Unik

Ludruk memiliki beberapa elemen pembeda yang membuatnya sangat istimewa dan mudah dikenali. Karakteristik ini menjadi DNA yang melekat pada setiap pertunjukannya.

  • Bahasa yang Merakyat: Ludruk menggunakan dialog dalam bahasa Jawa dialek Suroboyoan yang ceplas-ceplos, lugas, dan terkadang kasar. Pilihan bahasa ini sengaja digunakan agar pesan yang disampaikan mudah dicerna oleh penonton dari kalangan bawah.
  • Cerita Kehidupan Sehari-hari: Inilah kekuatan utama Ludruk. Ia tidak bercerita tentang dewa-dewi atau raja-raja agung, melainkan tentang Pak Sakerah si pejuang rakyat, tentang problematika pedagang di pasar, atau tentang kisah cinta pemuda desa.
  • Pemeran Lintas Gender: Salah satu keunikan yang paling mencolok adalah semua peran, termasuk peran wanita, dimainkan oleh aktor pria. Pemeran wanita ini dikenal dengan sebutan tandhak atau travesti, yang membutuhkan keahlian akting dan pembawaan yang luar biasa.
  • Adanya Kidungan dan Parikan: Pertunjukan Ludruk selalu diselingi oleh kidungan (nyanyian khas Jawa Timuran) yang diiringi gamelan. Selain itu, dialognya sering kali mengandung parikan (pantun jenaka) yang mengundang gelak tawa penonton.
Baca Juga:  RJ 45 yaitu port yang digunakan untuk menghubungkan kabel adalah​

Struktur Pertunjukan Ludruk

Sebuah pementasan Ludruk umumnya memiliki alur yang khas dan terstruktur, memberikan pengalaman yang lengkap bagi penontonnya.

  1. Tari Ngremo: Hampir semua pertunjukan Ludruk dibuka dengan Tari Ngremo. Tarian ini berfungsi sebagai pembuka, menyambut penonton, dan melambangkan karakter masyarakat Jawa Timur yang gagah, dinamis, dan tegas.
  2. Bedayan: Setelah Tari Ngremo, biasanya dilanjutkan dengan adegan seorang tokoh yang melantunkan kidungan atau parikan. Bagian ini berfungsi sebagai pengantar sebelum masuk ke cerita utama.
  3. Lawakan (Dagelan): Ini adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu. Para pelawak akan tampil membawakan humor segar yang sering kali menyentil isu-isu sosial atau politik yang sedang hangat.
  4. Cerita Inti: Setelah penonton dibuat tertawa, pertunjukan masuk ke dalam lakon atau cerita utama yang telah disiapkan.

Membedakan Ludruk dengan Seni Teater Tradisional Lainnya

Untuk semakin mempertegas bahwa seni tradisional khas Jawa Timur adalah Ludruk, mari kita bandingkan dengan pilihan lain yang sering kali menimbulkan kebingungan.

Kethoprak: Drama Kerajaan dari Jawa Tengah

Kethoprak adalah seni teater tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Perbedaan utamanya dengan Ludruk adalah:

  • Latar Cerita: Kethoprak cenderung mengambil cerita dari sejarah kerajaan, babad tanah Jawi, atau legenda-legenda yang berlatar istana.
  • Bahasa: Menggunakan bahasa Jawa yang lebih halus dan formal (krama inggil), sesuai dengan latar cerita kerajaannya.
  • Musik: Iringan gamelannya memiliki tempo dan nuansa yang lebih agung dan formal dibandingkan gamelan Ludruk yang lebih dinamis.

Lenong, Mamanda, dan Makyong: Harta Karun dari Daerah Lain

Pilihan lain dalam pertanyaan tersebut berasal dari luar Jawa Timur, bahkan dari luar pulau Jawa. Ini menunjukkan betapa pentingnya mengenali asal-usul setiap kesenian.

Baca Juga:  Seni teater tradisional yang berasal dari Pulau Bintan adalah....

Lenong: Komedi Khas Betawi (Jakarta)

Lenong adalah teater tradisional masyarakat Betawi. Ciri khasnya adalah dialog dalam dialek Betawi dan sering kali dibumbui dengan adu pantun dan aksi silat. Sama seperti Ludruk, Lenong juga mengangkat cerita rakyat, namun dengan identitas budaya yang jelas berbeda.

Mamanda dan Makyong: Seni Teater dari Tanah Melayu

Mamanda adalah seni teater tradisional dari Kalimantan Selatan, sedangkan Makyong adalah drama-tari yang berasal dari Kepulauan Riau dan budaya Melayu pada umumnya. Keduanya memiliki akar budaya Melayu yang kental, baik dari segi bahasa, kostum, musik, maupun alur cerita yang dipentaskan.

Peran dan Relevansi Ludruk di Era Modern

Di tengah gempuran hiburan modern, Ludruk menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan. Namun, semangatnya tidak pernah padam. Banyak grup Ludruk yang masih aktif berpentas, baik di panggung-panggung desa maupun di acara-acara kebudayaan kota.

Pemerintah daerah dan komunitas seni terus berupaya melakukan regenerasi dan adaptasi agar kesenian ini tidak punah. Beberapa grup bahkan mencoba mengemas Ludruk dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan esensi utamanya. Sebab, fungsi Ludruk sebagai media kritik sosial dan penyambung lidah rakyat tetap sangat dibutuhkan hingga hari ini.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran mendalam terhadap karakteristik, sejarah, dan perbandingannya dengan seni teater lain, dapat disimpulkan dengan tegas bahwa seni tradisional khas Jawa Timur adalah Ludruk. Kesenian ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan representasi otentik dari suara, tawa, dan perjuangan masyarakat Jawa Timur.

Memahami Ludruk berarti memahami jiwa masyarakatnya yang terbuka, egaliter, dan penuh semangat. Dengan mengenali dan mengapresiasi Ludruk, kita turut serta dalam upaya mulia melestarikan salah satu pilar kebudayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Tinggalkan komentar