Batu marmer terjadi karena

Batu marmer terjadi karena

A. suhu tinggi

B. suhu rendah

C. suhu tinggi dan tekanan tinggi

D. suhu rendah dan tekanan tinggi

E. suhu rendah dan tekanan rendah

Jawaban 1 : 

awabannya C. suhu tinggi dan tekanan tinggi

pembahasan :
batuan marmer berasal dari batuan Batuan Malihan (Metamorf) perubahan bentukini di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :

suhu tinggi di sebabkan oleh berdekatannya posisi batuan ini terhadap dapur makma
tekanan yang sangat tinggi
pengaruh air
perubahan kimia

Dijawab Oleh : 

Yuyun Yulianti, S. Pd.

Jawaban 2 : 

C (suhu tinggi dan tekanan tinggi)

Semoga Membantu

Dijawab Oleh : 

Zulkarnaen K, S. Pd. M.Pd.

Penjelasan :

Memahami Proses Metamorfosis: Awal Mula Terbentuknya Marmer

Untuk memahami asal-usul marmer, kita harus terlebih dahulu mengenal konsep metamorfosis dalam dunia geologi. Istilah ini secara harfiah berarti “perubahan bentuk”. Dalam konteks batuan, metamorfosis adalah proses di mana batuan yang sudah ada—baik itu batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf lainnya—mengalami perubahan komposisi mineral, tekstur, dan struktur akibat kondisi fisik dan kimia yang berbeda dari kondisi saat batuan tersebut pertama kali terbentuk.

Marmer adalah contoh klasik dari batuan metamorf. Ini berarti marmer tidak terbentuk dari magma yang mendingin atau endapan yang mengeras, melainkan dari batuan lain yang “dimasak” dan “ditekan” di dalam kerak bumi. Proses inilah yang menjelaskan mengapa batuan sejenis marmer terjadi karena perubahan fundamental dari batuan lain, yang dikenal sebagai batuan induk atau protolith. Agen utama yang mendorong transformasi dahsyat ini adalah suhu dan tekanan yang ekstrem.

Baca Juga:  Tuliskan lirik lagu mars Madrasah

Jawaban Tepat: Mengapa Suhu dan Tekanan Tinggi Sangat Krusial?

Jika dihadapkan pada pilihan ganda “Batu marmer terjadi karena… A. suhu tinggi B. suhu rendah C. suhu tinggi dan tekanan tinggi D. suhu rendah dan tekanan tinggi E. suhu rendah dan tekanan rendah”, maka jawaban yang paling akurat adalah C. suhu tinggi dan tekanan tinggi. Kedua faktor ini bekerja secara sinergis untuk mengubah batuan asal menjadi marmer yang kita kenal.

Peran Suhu Tinggi dalam Transformasi Batuan

Suhu tinggi adalah katalisator utama dalam proses metamorfosis marmer. Panas yang ekstrem, biasanya berkisar antara 150 hingga 800 derajat Celsius, tidak sampai melelehkan batuan induk sepenuhnya menjadi magma. Sebaliknya, panas ini memberikan energi yang cukup bagi atom-atom di dalam mineral untuk bergerak, melepaskan ikatannya, dan menyusun ulang diri menjadi kristal-kristal baru yang lebih besar dan lebih stabil.

Proses penyusunan ulang kristal ini dikenal sebagai rekristalisasi. Dalam konteks marmer, suhu tinggi menyebabkan kristal-kristal kalsit (mineral utama penyusun batu gamping) yang semula kecil dan terpisah untuk tumbuh dan saling mengunci dengan erat, membentuk tekstur kristalin yang khas pada marmer.

Peran Tekanan Tinggi yang Mendasari Pembentukan

Tekanan tinggi, atau tekanan litostatik, berasal dari beban lapisan batuan di atasnya atau dari tekanan diferensial akibat pergerakan lempeng tektonik. Tekanan ini memiliki beberapa peran penting:

  1. Memadatkan Batuan: Tekanan yang luar biasa besar akan memeras batuan, menghilangkan ruang pori-pori dan air yang terperangkap di dalamnya.
  2. Mengarahkan Pertumbuhan Kristal: Tekanan membantu mengarahkan pertumbuhan kristal baru, menghasilkan struktur batuan yang lebih padat dan kuat dibandingkan batuan asalnya.
  3. Mencegah Pelelehan: Tekanan yang tinggi juga meningkatkan titik leleh batuan, sehingga memungkinkan batuan tetap dalam keadaan padat meskipun berada pada suhu yang sangat tinggi, kondisi yang ideal untuk rekristalisasi.
Baca Juga:  Selat Bering terdapat di sebelah barat wilayah Alaska Selat Bering membatasi dua benua di dunia yaitu

Sinergi Sempurna: Kombinasi Suhu dan Tekanan

Pada intinya, batuan sejenis marmer terjadi karena kombinasi sinergis antara suhu dan tekanan tinggi. Suhu menyediakan “energi” untuk perubahan, sementara tekanan menyediakan “kekuatan” yang memadatkan dan membentuk ulang struktur batuan. Tanpa salah satunya, proses pembentukan marmer tidak akan sempurna. Metamorfosis yang melibatkan kedua faktor ini secara intensif sering disebut sebagai metamorfosis regional, yang biasanya terjadi di zona tumbukan lempeng benua.

Asal Usul Marmer: Dari Batu Gamping Menjadi Mahakarya Alam

Sekarang kita tahu bahwa marmer terbentuk dari batuan lain. Lantas, batuan apakah yang menjadi “bahan baku” utama marmer? Jawabannya adalah batu gamping atau limestone.

Batu Gamping (Limestone): Bahan Baku Utama

Batu gamping adalah jenis batuan sedimen yang sebagian besar tersusun dari mineral kalsit atau kalsium karbonat (CaCO3). Batuan ini umumnya terbentuk di lingkungan laut dangkal dari akumulasi cangkang, kerang, dan sisa-sisa organisme laut lainnya selama jutaan tahun. Karena proses pembentukannya, batu gamping sering kali memiliki tekstur yang agak rapuh, berpori, dan terkadang mengandung fosil yang jelas.

Proses Rekristalisasi: Kunci Perubahan Tekstur dan Tampilan

Ketika batu gamping terkubur jauh di dalam kerak bumi dan mengalami suhu serta tekanan yang ekstrem, proses rekristalisasi mengubahnya secara drastis. Memahami bahwa batuan sejenis marmer terjadi karena transformasi batu gamping memberikan apresiasi yang lebih dalam terhadap keindahannya.

Penghapusan Fosil dan Lapisan Sedimen

Salah satu perubahan paling signifikan adalah hilangnya fitur-fitur asli dari batu gamping. Suhu dan tekanan yang hebat menghancurkan struktur halus seperti fosil, cangkang, dan lapisan-lapisan sedimen. Seluruh material di dalam batuan dirombak total pada tingkat kristal.

Pembentukan Kristal Kalsit yang Saling Mengunci

Proses rekristalisasi menyebabkan butiran-butiran kalsit yang halus di dalam batu gamping tumbuh menjadi kristal-kristal yang jauh lebih besar. Kristal-kristal ini saling bertautan dan mengunci (interlocking) satu sama lain, menciptakan struktur yang padat, keras, dan non-foliasi (tidak berlapis). Struktur kristal inilah yang memberikan marmer kemampuannya untuk dipoles hingga mengilap dan memunculkan kilau khasnya saat terkena cahaya.

Baca Juga:  Kode alam erek erek burung perkutut bunyi di tangan

Mengapa Opsi Lain Tidak Tepat?

Melihat kembali pilihan jawaban, kini menjadi jelas mengapa opsi selain “suhu tinggi dan tekanan tinggi” tidak akurat.

  • A. Suhu Tinggi Saja: Meskipun dapat menyebabkan beberapa perubahan (metamorfosis kontak), tanpa tekanan yang memadai, batuan yang dihasilkan cenderung tidak sepadat dan sekuat marmer yang terbentuk dari metamorfosis regional.
  • B, D, E. Melibatkan Suhu Rendah atau Tekanan Rendah: Suhu dan tekanan rendah tidak memiliki energi yang cukup untuk memicu rekristalisasi skala besar yang diperlukan untuk mengubah batu gamping menjadi marmer. Kondisi ini lebih mendukung proses pembentukan batuan sedimen atau metamorfosis tingkat rendah yang menghasilkan batuan seperti batu sabak (slate), bukan marmer.

Kesimpulan

Jadi, proses bagaimana batuan sejenis marmer terjadi karena metamorfosis regional ini adalah kisah transformasi luar biasa dari batuan sedimen yang umum menjadi batuan metamorf yang berharga. Jawaban yang tepat dan komprehensif untuk pertanyaan “Batu marmer terjadi karena…” adalah akibat dari suhu tinggi dan tekanan tinggi yang bekerja bersamaan di kedalaman kerak bumi.

Proses ini mengubah batu gamping yang sering kali kusam dan berpori, menghapus jejak masa lalunya seperti fosil, dan menyusun ulang struktur mineralnya menjadi kristal kalsit yang padat, berkilau, dan saling mengunci. Mengetahui perjalanan panjang dan dahsyat ini membuat kita semakin menghargai setiap lempengan marmer, bukan hanya sebagai material bangunan, tetapi sebagai sebuah karya seni yang dipahat oleh kekuatan alam itu sendiri.

Tinggalkan komentar